Minggu, 13 Mei 2018

(Lagu) Kutahu Siapa Yang Kupercaya


O Yesus Tuhanku,
Kau satu-satunya yang aku andalkan di dalam hidupku

O Yesus Tuhanku,
Kau pengharapanku tuk hadapi semua yang menghadangku.

Tanpa_Mu kulemah,
Tanpa-Mu kuhilang.

REFF:
Kutahu siapa yang aku percaya,
hanyalah Kau Yesusyang jadi andalanku.
Kutahu siapa yang aku percaya,
semua kan berakhir dan aku akan jadi pemenang.

Kamis, 10 Mei 2018

Saat Ketaatan Diuji

"Seringkali ketaatan justru diuji dari hal-hal kecil yang paling kita hindari."
Kita berusaha menemukan dalih-dalih yang akan membebaskan kita dari melakukan "ketaatan" itu. Dan dalih yang paling sering muncul adalah bahwa hal tersebut terlalu sepele, sehingga menjadi tidak penting menurut pandangan kita. Dalam hal ini, ego menang terhadap "ketaatan".
Atau bisa juga yang sebenarnya terjadi (dan secara diam-diam hati kecil kita pun sudah mengakuinya) bahwa hal tersebut di luar dari kebiasaan kita, sehingga dibutuhkan keberanian ekstra (yang kadang sampai harus dipaksakan) untuk melakukannya.


Tapi di hadapan Tuhan, apa yang kita anggap sepele dan tidak penting, justru menjadi sesuatu yang sangat menentukan akan bukti kasih kita kepada-Nya. 
Yohanes 14:15, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

Semakin kita berusaha menyembunyikan sesuatu dari hadapan Tuhan, semakin hal itu akan muncul ke permukaan. Semua itu dilakukan Tuhan terhadap orang-orang yang dikasihi-Nya. karena seperti kotoran telinga yang jika tidak dikorek keluar, maka akan menyumbat pendengaran. Demikian pula jika kotoran hati kita tidak dikorek keluar, maka lambat-laun akan menyumbat pendengaran kita akan Firman Tuhan, hingga Terang Kristus pun tidak dapat menembus ke dalamnya.

Ibrani 4:13, Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Ya Yesus, selidikilah batinku, dan berilah aku kekuatan untuk senantiasa menjaga hatiku agar tetap murni di hadapan-Mu, sebab Engkau sendiri mengetahui betapa berantakannya ruang hatiku ini. Kalau bukan karena belas kasih-Mu yang tak terhingga, mungkin aku sudah menjadi seonggok sampah yang menjijikan Dan terbuang tanpa seorang pun memperdulikannya.

Ya Yesus, bersihkanlah sekali lagi, bahkan sampai berkali-kali, ruang di hatiku ini dengan darah dan air yang terpancar keluar dari luka di lambung-Mu, hingga menjadi murni kembali dan tulus di hadapan-Mu.Karuniakanlah kepadaku roh yang taat, agar terbukti kelak bahwa aku sungguh mengasihi-Mu, o Yesusku yang termanis.


Kepada sumber kebaikan dan kemurahan yang tak terselami, yang hanya kutemukan di dalam hati Yesus, jiwaku berharap.



Rabu, 09 Mei 2018

Ya Tritunggal Yang Mahakudus

"Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu."  (Yohanes 14)


Ya Tritunggal Yang Mahakudus, aku mempersembahkan kepada-Mu seluruh diriku, keluargaku dan Bangsaku. Kepada terang kasih-Mu yang  Menyelamatkan, kami berlindung.


(Lagu) Mencintai-Mu Di Saat Kesukaran

Mencintai-Mu Di Saat Kesukaran


Suka dan duka datang silih berganti mewarnai hari-hariku,
Terkadang kumerasa sendirian tanpa kawan atau sahabat.

Selalu kuteringat kepada-Mu, Yesus sahabat sejatiku,
Yang selalu setia mendampingiku dalam suka maupun duka.

REFF:
Yesus kumau mengasihi-Mu,
Bukan hanya saat Kau memberkatiku.
Namun kumau mencintai-Mu
Terlebih di saat kesukaranku.




Selasa, 08 Mei 2018

Jadilah Perisaiku

Aku terus-menerus bergumul dengan kelemahanku.
Ya Yesus, sudilah menjadi perisai bagi jiwaku yang rapuh ini, sebab tanpa-Mu, Tuhan, aku binasa.
"Darah dan air yang memancar dari lambung Yesus, Engkaulah andalanku."


Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 8:39)

(Lagu) Yesus Kupercaya

Lagu
Yesus Kupercaya


Ya Tuhan, dengarkanlah seruan doaku.
Di dalam kesetiaan-Mu, jawablah aku, Tuhan.
Ya Tuhan, dengarkanlah seruan doaku.
Di dalam belas kasih-Mu, jawablah aku, Tuhan.

Reff:
S"bab hanya Kau penolongku,
Dan hanya Kau penyembuhku.
Kau penyelamat dan Allahku,
Yesus Kupercaya.
(Yesus kuberserah)



Ya Tuhan, dengarkanlah suara tangisku,
Di dalam keadilan-Mu, jawablah aku, Tuhan.

(Reff)










Minggu, 06 Mei 2018

Berilah Aku Setitik Dari Kesabaranmu

My soul has become a battleground.
Will I endure to the end?
My patience subject seems to never end,
I always fail to pass the test.



Ya Roh Kudus yang lemah lembut, rasukilah jiwaku sedemikian rupa, hingga tidak ada lagi tempat untuk kemarahan, kesombongan atau pun kebencian.

Santa Maria, bunda terberkati, berikanlah kepadaku setitik saja dari sifat keibuanmu yang lemah lembut dan panjang sabar, agar aku mampu merawat "permata Tuhan" yang telah dipercayakan kepadaku. Bantulah aku untuk menjaganya, agar tidak sampai rusak apalagi pecah di tanganku. Peganglah selalu tanganku, supaya tidak lagi menggores permukaannya yang indah, sebab bagaimanakah kelak aku harus mempertangungjawabkannya di hadapan tahta pengadilan Tuhan?

Oh Yesusku, Engkau tahu betapa lemahnya aku. Berilah kekuatan-Mu, agar aku mampu melewati jalan sempit ini, penuh bebatuan dan onak duri. Tanpa-Mu, Tuhan, aku binasa.

Sabtu, 05 Mei 2018

Pencobaan-Pencobaan Yang Dikirim Tuhan Kepada Jiwa Yang dikasihiNya; Godaan & Kegelapan; Setan

PENCOBAAN-PENCOBAAN YANG DIKIRIM TUHAN KEPADA JIWA YANG DIKASIHINYA SECARA ISTIMEWA; GODAAN-GODAAN DAN KEGELAPAN; SETAN


Kasih jiwa (kepada Tuhan) masih belum sebanyak yang dikehendaki Tuhan. Jiwa sekonyong-konyong kehilangan persepsi yang jelas akan kehadiran Tuhan. Berbagai cacat cela dan kekurangan muncul dalam jiwa dan ia harus melawannya sekuat tenaga. Segala kelemahan menampilkan diri, tetapi kewaspadaan jiwa meningkat. Kesadaran awal akan kehadiran Tuhan undur diri dan memberikan tempatnya pada kebekuan dan kekeringan rohani; jiwa tak menikmati doa; jiwa tak mampu berdoa, baik dengan caranya yang lama maupun dengan cara doa yang baru saja dimulainya. Jiwa bergulat begitu rupa, namun tak mendapati kelegaan. Tuhan menyembunyikan Diri darinya; jiwa tak mendapati penghiburan dalam makhluk ciptaan, pula tak seorang pun dari makhluk ciptaan yang dapat menghiburnya. Jiwa sangat rindu akan Tuhan, namun ia hanya melihat kemalangannya semata; jiwa mulai menyadari keadilan Tuhan; jiwa merasa bahwa ia telah kehilangan segala rahmat yang diberikan Tuhan kepadanya; akal budinya suram dan kegelapan meliputinya; siksaan yang tak terkatakan mulai mendera. Jiwa berusaha menjelaskan keadaannya kepada bapa pengakuan, namun ia tidak dimengerti dan diserang bahkan dengan kegalauan yang terlebih lagi. Setan memulai karyanya.
Iman jatuh bangun dalam pergulatan; sungguh sengitlah pertarungan. Jiwa berusaha keras bertaut pada Tuhan dengan tindakan kehendak. Dengan ijin Tuhan, setan bahkan bertindak lebih jauh: pengharapan dan kasih diuji. Pencobaan-pencobaan ini sungguh mengerikan. Tuhan menopang jiwa secara diam-diam, begitulah. Jiwa tak menyadari hal ini, tetapi jika tidak demikian, pastilah mustahil jiwa dapat bertahan; dan Tuhan tahu betul berapa jauh Ia mengijinkan hal-hal itu menimpa jiwa. Jiwa dicobai untuk tidak mempercayai kebenaran-kebenaran yang telah diwahyukan dan untuk tidak tulus terhadap bapa pengakuan. Setan membujuknya, “Lihat, tak seorang pun mengerti engkau; mengapa menceritakan semua ini?” Kata-kata memperdengarkan suaranya yang ngeri ke telinga, dan jiwa merasa kata-katanya menghujat Tuhan. Jiwa melihat apa yang tak hendak dilihatnya. Jiwa mendengar apa yang tak hendak didengarnya. Dan, oh, betapa ngerinya pada masa-masa seperti ini, jiwa tak memiliki seorang bapa pengakuan yang berpengalaman! Jiwa harus memanggul seluruh bebannya seorang diri. Namun demikian, sejauh itu mungkin, haruslah jiwa berdaya-upaya untuk mendapatkan seorang bapa pengakuan yang berwawasan baik, sebab jiwa dapat tersungkur di bawah beban berat dan berada di ujung jurang yang dalam. Segala pencobaan ini sungguh berat dan sulit. Tuhan tak mengirimkan pencobaan yang demikian kepada jiwa yang belum masuk ke dalam persatuan mesra dengan-Nya dan yang belum pernah mencicipi sukacita surgawi. Di samping itu, Tuhan mempunyai rancangan-Nya sendiri, yang bagi kita tak terpahami. Acapkali Tuhan mempersiapkan suatu jiwa dengan cara ini bagi rancangan-rancangan dan karya-karya besar-Nya di masa mendatang. Tuhan ingin menguji jiwa sebagaimana emas murni diuji. Tetapi, hal ini bukanlah akhir dari ujian; masih ada pencobaan di atas segala pencobaan, jiwa sama sekali ditinggalkan oleh Tuhan.
Apabila jiwa menang dalam pencobaan-pencobaan sebelumnya, meski kadang tersandung di sana sini, jiwa bertempur dengan gagah berani, dengan rendah hati berseru kepada Tuhan, “Tuhan, selamatkanlah aku, aku binasa!” dan jiwa masih dapat terus berjuang. Namun demikian, pada tahap ini, jiwa diliputi suatu kegelapan yang mengerikan. Jiwa mendapati dirinya sama sekali ditinggalkan oleh Tuhan. Jiwa merasa dirinya menjadi obyek murka Allah. Jiwa hanya sejengkal saja dari keputusasaan. Jiwa berjuang sekuat tenaga guna mempertahankan diri, berusaha membangkitkan kepercayaannya, tetapi doa bahkan merupakan siksaan yang terlebih lagi baginya, sebab doa tampaknya hanya membangkitkan murka Allah yang terlebih dahsyat. Jiwa mendapati dirinya berada di puncak sebuah gunung yang tinggi, di tepi jurang yang dalam.
Jiwa ditarik kepada Tuhan, namun jiwa merasa ditolak. Segala siksa dan aniaya di dunia tak ada artinya dibandingkan dengan perasaan ini, di mana jiwa ditenggelamkan di dalamnya, yaitu perasaan ditolak oleh Tuhan. Tak seorang pun mampu mendatangkan kelegaan padanya; jiwa mendapati dirinya sebatang kara; tak seorang pun berada di pihaknya. Jiwa mengarahkan mata ke surga, tetapi jiwa yakin bahwa itu bukan untuknya - sebab bagi dia segalanya sudah lenyap. Jiwa jatuh semakin dan semakin dalam, dari kegelapan ke kegelapan, dan jiwa merasa bahwa untuk selamanya ia telah kehilangan Tuhan yang dulu dikasihinya begitu mesra. Pikiran-pikiran ini berkecamuk mendera jiwa hingga tak terlukiskan. Tetapi jiwa melawan pikiran-pikiran ini dan berusaha mengarahkan pandangannya ke surga, namun sia-sia! Hal ini menjadikan siksaannya bahkan semakin dahsyat.
Jika Tuhan berkehendak membiarkan jiwa dalam kegelapan demikian, maka tak ada seorang pun yang akan mampu mendatangkan terang baginya. Jiwa mengalami ditolak oleh Tuhan dengan cara yang nyata serta mengerikan. Dari hatinya terdengarlah erangan-erangan pilu, begitu memedihkan hingga tak seorang imam pun dapat memahaminya, kecuali jika ia sendiri pernah mengalami pencobaan-pencobaan demikian. Di tengah kegelapan, roh jahat menambah sengsara jiwa dengan ejekan-ejekannya, “Adakah engkau akan tetap bertahan dalam kesetiaanmu? Inilah ganjaranmu; engkau ada dalam kuasaku!” Tetapi setan hanya dapat membujuk jiwa sebanyak yang diijinkan Tuhan, dan Tuhan tahu benar seberapa banyak yang mampu kita tanggung. “Apakah yang kau dapatkan dari penyangkalan dirimu,” kata setan, “dan dari ketaatanmu pada peraturan? Apa guna segala daya upaya itu? Engkau telah ditolak oleh Tuhan!” Kata “ditolak”, menjadi suatu anak api yang merasuki segenap syaraf hingga ke sum-sum tulang dan menembusi seluruh keberadaannya. Siksa mencapai puncaknya. Jiwa tak lagi mencari pertolongan dari manapun. Jiwa menciut dan kehilangan pandangan akan segalanya; seolah jiwa telah menerima penderitaan ditinggalkan Tuhan. Masa ini adalah masa yang tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata. Inilah siksa jiwa.

Ya Tuhan-ku, bakarlah hatiku dengan kasih kepada-Mu, agar janganlah semangatku pudar di tengah badai, penderitaan dan pencobaan. Engkau tahu betapa lemahnya aku. Kasih mengatasi segalanya.

# St. Faustina Kowalska #

Jumat, 04 Mei 2018

Masih Jauhkah Kalfari


Ya Tuhan, Tuhanku, mengapa salib yang harus kupikul begitu berat, bahkan bertambah berat?
Masih jauhKah Kalfari?
Akankah aku bertahan hingga tiba di sana?
Adakah Simon dari Kirene yang bersedia membantu memikul  salib ini?

O Tuhan, Tuhanku, mengapa salib ini begitu berat?
Masih jauhkah Kalfari?
Berikanlah sedikit lagi kekuatan padaku, ya Tuhan, agar aku tak hilang di tengah jalan.
Kasihanilah aku, ya Tuhan, kasihanilah aku.

Kamis, 03 Mei 2018

Sharing Hati


Terkadang, saat dalam penderitaanku yang amat sangat; mengingat akan kepribadianku yang buruk dan segala dosa-dosaku, aku berpikir kalau aku telah ditolak oleh Tuhan.  Pikiran ngeri ditolak Tuhan adalah siksaan yang paling hebat yang pernah kurasakan. Rasanya aku ingin mati saja!  Untuk apa aku terus berjuang, jika Tuhan sendiri saja tidak berkenan pada diriku yang hina ini?  Apa gunanya aku tetap ada, jika hidupku hanya mampu melukai hati banyak orang dan menjadi celaan bagi nama Tuhan? Bukankah seribu kali lebih baik jika aku tidak ada?

Tapi di tengah masa-masa sulit ini, jiwaku senantiasa tetap menanti-nantikan uluran tangan kasih-Mu, ya Tuhanku. Aku ngeri membayangkan Engkau membuangku, aku takut berjalan sendiri tanpa Engkau di sisiku, seolah-olah hanya hitam pekat seluruh jalanku.

O Yesusku, Engkau mengatakan bahwa 'lebih mudah seorang ibu melupakan bayinya daripada Tuhan melupakan makhluk ciptaan-Nya, dan bahkan andai seorang ibu melupakan bayinya, Aku Tuhan tidak akan pernah melupakan ciptaan-Ku.'

O Yesus, adakah Engkau mendengar bagaimana jiwaku merintih? Sudilah mendengar ratap-tangis pilu anak-Mu. Aku mengandalkan Engkau, ya Tuhan, sebab langit dan bumi akan lenyap, tetapi sabda-Mu akan tetap untuk selamanya.

Kasihanilah aku, ya Tuhan, kasihanilah aku.
Ampunilah aku, ya Tuhan, ampunilah aku Orang berdosa ini.
Sebab kepada-Mu saja jiwaku berharap. Kepada belas kasih-Mu saja hatiku percaya. Berikanlah kepadaku kemampuan untuk melawan diriku sendiri, melawan kemarahanku, melawan kebencianku yang tiada arah.

Janganlah Kau tinggalkan aku seorang diri. Janganlah Kau biarkan aku jatuh dan mati, sebab bukankah kasih-Mu lebih besar dari pada hidup?
biarkanlah lidahku kembali bersukacita karena segala kebaikan-Mu. Meski banyak dosaku. Walau Tak terhitung pelanggaranku, namun aku tetap berharap pada kemurahan-Mu yang besar tak terkira, ya Yesus keselamatanku.
Kiranya tangan-Mu yang lembut mengangkat aku kembali. Kiranya kesetiaan-Mu yang tak berujung memeluk diriku, hingga jiwaku boleh mendapatkan ketenangan, karena mengetahui bahwa Engkau masih menyayangiku, meski aku bergelimang dosa, kotor dan menjijikan.

Selasa, 01 Mei 2018

(Lagu) Beri Kami Harapan

Beri Kami Harapan
Oleh: Rachel Stefanie


Lagu ini berbicara tentang seruan hati mereka yang terbuang hanya karena mereka terlahir tak sempurna.

Seringkali manusia terlalu pintar untuk menilai kekurangan orang lain, tanpa menyadari bahwa dirinya pun penuh dengan kekurangan.
Mari,
"Cintailah mereka yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna".

Ingatlah bahwa kesempurnaan manusia itu terletak pada ketidak-sempurnaannya.
"Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang -orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat."  (1 Korintus 1:27)




Ket:
Terima kasih untuk bapak Yohannes Sugiyono Setiadi yang sudah membuat video ini dan mengungahnya ke youtube.


Senin, 30 April 2018

(Lagu) Inilah Janjiku

Inilah janjiku
Oleh: Rachel Stefanie

Kudatang padaMu, Tuhan,
Bersimpuh di kakiMu,
Meletakkan bebanku,
Tuk berteduh dalam dekapanMu.

Dengan segenap kekuatanku,
Kumau mengasihiMu,
Meski salib yang kupikul menghimpitku dan meremukkanku.

Reff:
Inilah janjiku kepadaMu, Yesus,
Kukan s'lalu mencintaiMu.
Sampai akhir nanti kukan menyembahMu,
S'bab Kau satu yang s'lalu tersimpan di dalam hatiku.




(Lagu) Meskipun Mataku Tak Mampu Melihat

Meskipun Mataku Tak Mampu Melihat
Oleh: Rachel Stefanie

Bila kurenungkan perjalanan hidupku,
Sungguh Kau rancangkan segala yang terbaik.

Meskipun mataku tak mampu melihat,
Namun Kau tetap setia membimbing langkahku.

Reff:
Kini kupersembahkan hidupku ke dalam tangan-Mu, o Yesusku.
Jika Kau ingin sembuhkan mataku,
Kuyakin Kau sanggup melakukannya.
Namun janganlah kehendakku yang terjadi, melainkan kehendak-Mu jadilah.





Minggu, 01 Januari 2012

Tuhan Dimana Kau?

Suatu malam, kala aku sedang berdoa sendiri di dalam kamar, hatiku sungguh merasa hampa dan kosong, seolah-olah Tuhan berada sangat jauh, hingga rasanya doaku takkan sampai dan takkan terdengar oleh-Nya. Tiap doa yang kuucapkan sepertinya selalu mentok di langit-langit kamar, dan mental kembali kepadaku, benar-benar membuatku frustasi dan luar biasa sedih. Tak ayal lagi, air mata pun mulai mengalir. “Tuhan, di mana Kau?” hatiku menjerit. Tiba-tiba saja sekujur tubuhku terasa sangat lelah, keputusasaan menyergap jiwaku, dan aku pun segera menghempaskan tubuhku ke bantal, lalu menangis.

Sekonyong-konyong aku mendengar sebuah suara yang berkata dengan lembut:
“Imani saja kalau Aku berada dekat denganmu.”

Sejenak aku tertegun, otakku secara reflek langsung bekerja mencerna perkataan yang baru saja kudengar itu, namun dalam waktu bersamaan hatiku pun bertanya, “Apa?”
Aku berharap suara itu kembali berbicara, hanya untuk memuaskan keinginan manusiawiku yang ingin mendengarnya lagi. Tapi tentu saja suara itu tak lagi terdengar, karena sebenarnya aku sudah menangkap perkataan itu dengan jelas.

Kurang lebih selama dua atau tiga menit aku hanya merenungkan perkataan itu. Perlahan-lahan hatiku mulai menggembung kembali dengan harapan dan sukacita yang tiada tara. Seketika itu juga perasaan kecewa, sedih dan putus asa lengser dari kedudukannya, langsung digantikan dengan perasaan damai dan teduh yang terasa menyejukan jiwa, karena kutahu kini kalau sesungguhnya Tuhan berada teramat sangat dekat denganku, bahkan Dia baru saja berbicara padaku. Cepat-cepat aku bangun dari bantal dan kembali duduk untuk berdoa.

Sekarang, aku tak peduli lagi apakah doaku akan selalu mentok di langit-langit kamar atau hanya seperti hawa mulut yang langsung menguap lenyap, serta perasaan hatiku yang kosong melompong, hampa dan terasa gelap. Yang aku pedulikan kini adalah Tuhan begitu mengasihiku dan selalu bersedia mendengar setiap doaku, meski pun hanya sebuah doa yang kekanak-kanakan, tidak tertata rapi, dan terkesan amburadul dengan kata-kata sehari-hari seorang anak kecil kepada ayahnya, asal doa itu kuucapkan dengan hati yang tulus dan penuh kerinduan kepada Tuhan, maka pastilah Tuhan akan bersedia mendengarnya, walau mungkin jawaban yang kuterima dari-Nya hanyalah sebuah senyuman dan kedipan mata.

Minggu, 11 Desember 2011

Sharing Hati

Saat aku menyerahkan segala kekuatiranku pada Yesus, maka hatiku akan menjadi lebih damai. Kepercayaan pada keputusan Tuhan menyembuhkan luka dan kepedihan hati.

Minggu, 04 Desember 2011

(Lagu) Tuhan Tahu Akan Segalanya

Ketika kau berpikir tentang persoalanmu,
seolah Tuhan jauh, dan mengabaikan seruanmu.

Janganlah kau gelisah akan hari depanmu,
seolah tiada lagi yang kan dapat menolongmu.

Reff:
Dia yang menanam telinga kita,
masakan Dia tak mendengar.
Dia pun yang membentuk mata kita,
masakan Dia tak memandang.
Tuhan tahu akan segalanya.

Rabu, 19 Oktober 2011

Renungan Anak : Keledai Yang Rendah Hati

Amsal 29:23 Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.

Kancil, kuda dan keledai adalah sahabat dekat. Mereka selalu bermain bersama-sama. Meskipun kuda dan kancil sering mengata-ngatai keledai si bodoh, namun keledai tidak pernah marah atau tersinggung. Keledai tetap menunjukan sikap bersahabat.

Keledai memang binatang yang lamban dan bodoh. Setiap kali mereka sedang bermain, keledai selalu jadi yang terbelakang. Sementara kuda dan kancil merupakan binatang yang cepat, pintar dan tangkas, dan mereka merasa bangga dengan kelebihan yang mereka miliki itu.

"Untung aku tidak seperti si keledai dungu!" Kata kuda dengan bangga saat mereka sedang berlomba menangkap kupu-kupu.

"Ya. Beruntung juga aku adalah seekor kancil yang dapat berlari sangat cepat dan terkenal cerdik!" Timpal si kancil tak mau kalah.

Mendengar celotehan kedua temannya, keledai hanya menunduk sedih. Sudah seharian dia berlari-lari mengelilingi taman, namun tak satu pun kupu-kupu berhasil dia tangkap. Sementara kuda sudah berhasil memperoleh lima kupu-kupu, dan kancil enam kupu-kupu.

"Huh," Terdengar kuda mendengus, "Seberapa pun cepatnya kau berlari, tetap saja masih lebih cepat aku!"

"Enak saja!" sahut kancil marah, "buktinya aku bisa mendapatkan kupu-kupu lebih banyak dari pada kamu!"

"Itu karena... Brak!... Aduh!" Kuda yang sedang memandang kancil sambil berlari mengejar kupu-kupu tak sengaja menabrak pohon sampai terjatuh dan kepalanya pusing tujuh keliling.

"hua ha ha ha ha..." Kancil tertawa terbahak-bahak sambil melompat-lompat kegirangan. "Tahu rasa kamu, kuda!" serunya mencemooh.

Keledai yang sedang beristirahat karena sudah lelah mengejar kupu-kupu yang belum juga berhasil dia tangkap, memandang kuda dengan perasaan kasihan, lalu dia menghampiri kuda dan mengusap-usap hidung kuda yang bengkak akibat terbentur batang pohon tadi.

Kuda yang melihat kebaikan keledai menjadi malu dan menyesal karena sudah mengolok-oloknya, sementara itu kancil masih menertawai kuda habis-habisan.

"Maafkan aku, keledai, karena aku sudah jahat padamu." kata kuda penuh penyesalan. "Ternyata kamu adalah teman sejati. Aku bersyukur sekali memiliki teman baik dan rendah hati sepertimu."

Kancil yang mendengar perkataan kuda langsung terdiam. Dia sadar bahwa dirinya bukan teman yang baik, bukan teman sejati karena sudah bersikap sombong dan bergembira di atas penderitaan sahabatnya sendiri.

"Maafkan aku juga ya, keledai." kata kancil kemudian kepada keledai.

Keledai pun mengangguk sambil tersenyum bahagia.

Mulai hari itu, kancil dan kuda tak pernah lagi mengata-ngatai keledai, melainkan mereka mencontoh sikap keledai yang selalu sabar dan rendah hati. Dengan demikian, mereka menjadi lebih bahagia dan rukun satu sama lain.


Adik-adik yang dikasihi Tuhan Yesus,
belajarlah bersikap seperti keledai yang rendah hati, tidak sombong, tidak suka membalas perbuatan jahat dengan perbuatan jahat lagi, melainkan dengan perbuatan penuh kasih, maka kita akan menyenangkan hati Tuhan, karena Tuhan memberi pujian kepada setiap anak-anak-Nya yang rendah hati.


Mari kita berdoa:

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

Tuhan Yesus, berilah kepadaku roh yang rendah hati dan penuh kasih, agar aku dapat menjadi saksiMu dan selalu menyenangkan hatiMu yang kudus dan penuh dengan belas kasih. Di dalam namaMu aku berdoa. Amin.

Bapa kami...
Salam Maria...
Kemuliaan...

Renungan Anak : Anak Pemalas Kena Batunya

Amsal 21:25 Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja.

Sejak kecil, Ficka sudah diangkat anak oleh orang tua Icha. Oleh karena itu, Ficka dan Icha selalu terlihat bersama-sama, baik saat di sekolah, maupun di rumah. Ayah Icha memang mendaftarkan Ficka di sekolah yang sama dengan anaknya, agar mereka bisa selalu bersama-sama.

Ficka sadar kalau dia hanyalah seorang anak angkat, makanya dia selalu bersedia membantu apa saja yang dia bisa lakukan. Seperti membantu ibu angkatnya membereskan rumah, memasak, sampai membantu Icha mengerjakan PR.

Sebaliknya, Icha selalu menyuruh Ficka mengerjakan apa saja yang dia minta, seperti mengambilkan minum, membereskan mainan yang baru saja selesai dimainkan oleh mereka berdua, menyetrikakan baju seragamnya, sampai mengerjakan semua tugas-tugas sekolahnya.

Di kelas, Icha sengaja duduk satu meja dengan Ficka, sehingga saat ujian, dia bisa menyontek jawaban Ficka, karena Ficka sudah belajar di rumah, sementara dia sendiri hanya bermalas-malasan.

"Buat apa aku belajar, toh, nanti aku tinggal menyontek saja hasil jawaban Ficka!" Kata Icha ketika ditanya ibunya mengapa dia tidak belajar seperti Ficka.

Icha memang sudah merasa keenakan dengan adanya Ficka di sampingnya. Dia berpikir kalau Ficka takut padanya, karena Ficka hanyalah seorang anak angkat yang menumpang di rumahnya.

Suatu hari, saat ujian kelulusan dilaksanakan, Seperti biasa Icha tidak mau belajar sama sekali, karena dia sudah yakin kalau dia bisa melihat jawaban Ficka yang duduk tepat di sebelahnya.

Tapi, ketika ujian sudah hendak dimulai, tiba-tiba saja guru pengawas menyuruh beberapa murid untuk bertukar tempat duduk, dan salah satunya adalah Ficka.

"Ficka, kamu bertukar tempat duduk dengan Bernad!" seru guru pengawas itu kepada Ficka yang langsung meninggalkan tempat duduknya dan menuju ke tempat duduk Bernad, sementara Bernad berpindah duduk di sebelah Icha.

Melihat kenyataan ini, wajah Icha langsung saja menjadi pucat. Tidak pernah disangka sebelumnya kalau dia akan duduk berjauhan dengan Ficka, apalagi sekarang yang duduk di sebelahnya adalah Bernad yang juga merupakan anak malas belajar, dan sering mendapatkan nilai buruk.

"Mati deh aku sekarang!" keluh Icha dalam hati.

Ujian pun dimulai.

Icha sama sekali tidak dapat menjawab satu soal pun. Ketika dia hendak melirik jawaban Bernad, tiba-tiba saja kepalanya bertuburkan dengan kepala Bernad yang ternyata juga sedang mencoba melirik jawaban Icha. Sesaat mereka berdua saling berpandangan sambil mengusap-usap dahi mereka yang terasa sakit, akibat tadi saling berbenturan.

Icha benar-benar merasa menyesal sudah malas belajar. Tak dapat ditahan lagi dua air mata jatuh membasahi kertas ujian yang terletak di atas meja. Sekarang sudah terlambat. Semuanya hanya gara-gara dia menjadi anak pemalas.

Saat hasil kelulusan diumumkan, Ficka bersorak senang karena dia merupakan anak terbaik di kelasnya. Tapi kegembiraannya itu tidak bertahan lama ketika dia mendengar bahwa Icha tidak lulus ujian.

Nah, adik-adik yang manis, jadilah anak yang rajin seperti Ficka, karena anak pemalas suatu hari nanti pasti akan kena batunya. Gunakanlah kedua tanganmu untuk bekerja, membantu sesama, dan belajar. Keinginan besar akan menjadi sia-sia jika tidak disertai tangan yang rajin.

Tuhan sayang kepada anak yang rajin, dan Dia pasti akan memberkati anak-anak yang tidak suka bermalas-malasan.

Mari kita berdoa :

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

Tuhan Yesus, ampuni saya jika selama ini saya merupakan anak yang pemalas. Malas belajar, malas membantu orang tua, dan juga suka malas berdoa. Saya mohon, berilah saya roh yang rajin, tangan yang rajin, dan kehendak untuk menjadi anak yang rajin, agar saya bisa menjadi berkat bagi orang lain. Di dalam nama Tuhan Yesus, Amin.

Minggu, 09 Oktober 2011

Renungan Anak: Si Kera Nakal




Matius  6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

Disuatu pagi yang cerah, ada seekor kera nakal yang sedang berjalan-jalan di kebun buah-buahan yang sangat luas milik pak tua, sambil sesekali ia melompat ke dahan-dahan pohon dan memetik buahnya untuk dimakan. Sudah banyak jenis buah yang berhasil ia makan, tapi ketika dia sedang asyik menikmati sebuah apel yang rasanya sangat manis, tak sengaja matanya melirik sebuah pohon yang berbuah lebat dan berwarna merah.
Air liurnyapun menetes membayangkan betapa enaknya rasa buah-buah merah itu yang belum pernah dia cicipi seumur hidupnya.
Akhirnya kera nakal itupun membuang setengah apel yang belum dihabisinya, dan langsung melompat ke pohon berbuah merah itu. Dengan tak sabar, ia memetik beberapa buah sekaligus dan langsung memakannya dengan sangat lahap.
Awalnya dia tak merasakan rasa asli dari buah merah itu, karena dipikirannya saat itu, buah itu pasti mempunyai rasa yang sangat manis dan menyebarkan bau yang sangat harum.
Tapi setelah beberapa saat, ia mulai merasakan sesuatu yang panas di dalam perutnya, dan lidahnya terasa sangat pedas. tak dapat dibendung lagi, air matanyapun mengalir deras.

"Oh, tidak!" jeritnya panik.
"Mengapa aku jadi merasa begini?"

Karena sudah tak tertahankan lagi, kera itu pun berlari-larian mengelilingi pohon itu, yang ternyata merupakan pohon cabai, dan sambil berteriak-teriak, ia terus melompat-lompat seperti kera gila. Mulutnya menganga lebar, wajahnya menjadi semerah cabai yang baru saja dia makan.

"Tolong..., tolong....!!, sh sh sh sh shhah ahhah... perutku panas sekali..., seperti terbakar...!!" Ia terus berlompatan ke sana-kemari.
"Air..., air..., sh sh sh shhah shhah..., aku butuh air...!!" " Kini dia berguling-guling di atas tanah, sambil terus berteriak-teriak.
Akhirnya tak lama kemudian, si kera nakal itupun jatuh pingsan.

Tak berapa lama kemudian, dari balik pepohonan, seorang bapak tua pemilik kebun tersebut datang menghampiri si kera yang masih pingsan itu.

"Aha, ini dia kera nakal yang suka mencuri buah-buahan milikku!" Kata si bapak tua sambil memondong tubuh si kera, lalu dibawanya ke belakang rumahnya.
Di situ sudah tersedia sebuah sangkar cukup besar untuk meletakkan si kera yang belum juga siuman dari pingsannya.

Setelah kera itu sadar, dilihatnya bahwa kini dia sedang berada di dalam kurungan milik pak tua. Betapa sedih hatinya, dan dia pun menyesali perbuatannya yang terlalu serakah dan tidak pernah merasa cukup.


Nah, adik-adik yang manis, kita sudah membaca kisah kera yang tidak pernah merasa cukup, semua ingin dilahapnya tanpa peduli dengan keadaan sekelilingnya. Dan akhirnya, kera itupun mendapatkan batunya. Kini dia harus tinggal di dalam kurungan setiap hari, dan harus menerima makanan apa saja yang diberikan oleh pak tua. Dia tak lagi bisa memilih jenis makanan yang dia sukai.

Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita dalam doa 'Bapa Kami' :
"Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.",
bukannya,
"berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang sebanyak-banyaknya.".
Itu berarti Tuhan menginginkan agar kita tidak menjadi serakah, tetapi selalu bersyukur dengan apa yang ada pada kita. Dan ingat ya adik-adik, jangan sekali-kali kita membuang-buang makanan yang sudah Tuhan berikan pada kita hari ini. , karena kalau kita membuang makanan, berarti kita tidak menghargai dan mensyukuri apa yang Tuhan beri.

Mari kita berdoa :

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk tidak menjadi serakah, tapi selalu bersyukur dan menghargai semua yang sudah Tuhan sediakan bagi diriku dan keluargaku, karena Tuhan tahu segala kebutuhanku dan yang terbaik bagi hidupku.
Demi Kristus, Tuhan dan Juru Selamatku. Amin.


Yuk, kita sama-sama daraskan doa Bapa kami...
Salam Maria...
Kemuliaan...


Salam dalam kasih Tuhan,

Rachel

Rabu, 28 September 2011

Renungan Anak: Bruno Dan Ringgo


Bruno Dan Ringgo

Titus 3:2.
Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.

Bruno dan Ringgo merupakan dua ekor anjing yang bersahabat. Tetapi persahabatan mereka rusak ketika suatu hari mereka memperebutkan sebuah tulang yang tergeletak di pinggir jalan.

Pertama-tama Bruno yang menemukan tulang itu, dan baru saja hendak mengambil dengan giginya, tiba-tiba Ringgo menyerobot dari belakangnya dan langsung menggigit tulang itu. Akhirnya merekapun bertengkar, saling menggigit, dan saling menggeram. Tulang itupun terlepas dari mulut Ringgo, dan tergeletak kembali di pinggir jalan.

Sementara mereka terus bertengkar., seekor anjing lain muncul dan secara diam-diam membawa pergi tulang itu.

Ketika Ringgo dan Bruno merasa lelah dan kesakitan, karena mereka sudah saling melukai satu sama lain, akhirnya kedua anjing itupun berhenti bertengkar. Dan pada saat mata keduanya mencari-cari tulang yang sudah membuat mereka bertengkar dan membuat tubuh keduanya sakit-sakit, mereka pun menjadi heran.

"Tulangnya sudah tidak ada lagi!... Tulangnya menghilang!" Seru mereka bersamaan.

Akhirnya merekapun menyesal karena telah melakukan tindakan yang sangat bodoh. Seandainya mereka tidak bertengkar..., seandainya Ringgo tidak merebut tulang yang ditemukan Bruno..., seandainya mereka bisa saling ramah satu sama lain, dan mau berbagi tulang dengan sahabatnya itu..., pasti saat ini mereka tidak kehilangan tulang tersebut, dan dapat menikmatinya dengan rasa senang dan bersahabat.

Adik-adik yang manis,
janganlah kita bersikap seperti Bruno dan Ringgo yang bertengkar hanya karena memperebutkan sebuah tulang. Tapi ambillah pelajaran dari pengalaman kedua anjing itu yang kehilangan tulangnya karena mereka tidak mau saling berbagi dan bersikap ramah terhadap satu sama lain.
Jadilah anak yang ramah dan lemah lembut, mau saling berbagi dan menjauhi pertengkaran yang hanya merugikan bukan saja diri kita sendiri, tetapi juga teman-teman yang kita sayangi. Karena pertengkaran akan menghancurkan persahabatan.

Mari kita berdoa :

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

Tuhan Yesus,
Bantulah aku untuk menjauhi pertengkaran dengan siapapun, dan ajarilah aku untuk bersikap ramah terhadap semua orang, agar namaMu selalu dimuliakan melalui hidupku.
Di dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

Lanjutkan dengan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus, yaitu doa Bapa kami.
Kemudian mari kita menyapa Bunda kita dan memohon doanya dengan berdoa Salam Maria dan ditutup dengan Kemuliaan.

Salam dalam kasih Tuhan,

Rachel