Kamis, 10 Maret 2011

Yesus Engkaulah Andalanku

YESUS, ENGKAULAH ANDALANKU


Rabu 9 Januari 2008

Dalam gelap aku menatap
Dalam terang aku merasa;

Dalam pekat malam aku melangkah
Dalam kemilau siang aku berpikir;

Hanya karena kasih Tuhanku yang besar,
aku mampu berkarya;
dan hanya oleh bimbingan-Nya yang membawaku kepada kemenangan,
aku mampu ada sebagaimana aku ada.

Yesus, Engkaulah andalanku.

Perahu Kemenangan

PERAHU KEMENANGAN


Sabtu 5 Januari 08

Kutapaki lembaran baru dalam perjalanan iman
Mengarungi samudra kehidupan dalam perahu kemenangan

Cinta Tuhanku telah menghanguskan aku
Melumatku hingga ke dasar sanubari
Menerbangkanku kea awan persemayaman cinta
Yang bersinar kemilau bagaikan emas murni
Membalutku dalam selimut kedamaian yang sebelumnya tak pernah sekalipun melintas di benakku.
Kini aku bagaikan seekor burung kecil
yang terbang mengelilingi angkasa raya kemuliaan
Bersarang dalam dekapan terang kasih Tuhan
Sambil menyenandungkan nyanyian sukacita
Berkumpul kembali dalam kehangatan kasih persaudaraan
Bersama segenap lascar surgawi,
Memuji dan mengagungkan sang Raja Kemuliaan:

‘Yesus Kristus’

Pantai Keteguhan

PANTAI KETEGUHAN

Jumaat 4 januari 2008

Desak rindu tak terbendung
Rasa hati kian tak menentu

Kebencian bergantikan kekaguman
ketakutan bergantikan pengharapan
Meruntuhkan dinding keangkuhan
Mematahkan deret rantai keragu-raguan
Mendamparkan jiwa di pantai keteguhan
Melangkah dengan iman kepada terang kebenaran yang sejati
Akan kuteguk air sungai kehidupan
Hingga kutemukan pulau kedamaian jiwa yang sesungguhnya.

Ling-Lung

LINGLUNG

SENIN 17 DES 2007

(Protestan atau Katholik?)

Tuhan, apakah yang Engkau inginkan supaya aku perbuat?
Apakah yang sedang Engkau rancangkan bagi hidupku?
Mengapa Engkau menarik aku ke dalam suasana hati yang tidak karuan seperti ini?
Seakan kakiku berpijak pada dua buah gunung, yang dipisahkan oleh sebuah jurang yang terjal,
Yang siap kapan saja untuk menerjunkan diriku ke dalamnya.

Hatiku sungguh diliputi kebingungan
Diselimuti ketakutan dan keragu-raguan,
Ke manakah aku harus melangkah?
Ke gunung yang manakah aku harus meletakan kedua kakiku?
Atau mungkinkah aku harus bertahan pada kedua gunung itu?
Hingga kedua kakiku menjadi lemas;
dan perlahan-lahan jurang keputusasaan akan dengan sukarela menyambut tubuhku amblas ke dalam pelukannya?

Tuhan,
Siapakah yang perduli akan kesengsaraanku?
Siapakah yang perduli akan sakit yang kurasakan
Akibat pertempuran hebat yang berkecamuk di dalam jiwaku ini?

Haruskah aku berjuang seorang diri?
Haruskah aku menangis di balik punggung-Mu?
Atau haruskah aku terus berdiri diam sambil menantikan orang datang menarik-narik tanganku,
Dan meyakinkan diriku untuk mengikuti jejak yang mereka pikir benar?

Siapakah yang benar?
Apakah kebenaran itu?

O Tuhan,
Mengapa hati dan pikiranku menjadi kalut seperti ini?
Apakah aku sudah menjadi gila karena bingung?

Kapankah gembalaku datang?
Kapankah gembalaku yang baik itu menolongku dan membawa aku pulang?
Pulang ke mana?
Ke gunung yang mana?

Kini kedua gunung tampak begitu menarik dimataku.

Gunung yang satu dipenuhi dengan aneka bunga berwarna-warni
Menebarkan keharuman yang sudah sangat kukenal,
Yang merasuk sampai kesumsum dan tulang-tulangku,
Menghadirkan kehangatan dan kenyamanan,
Gunung yang telah membesarkanku,
Memeliharaku, dan mengasihi aku hingga saat ini.
Gunung yang begitu kukasihi,
Gunung yang begitu kukagumi dengan segala keindahannya.

Tapi di sisi yang lain,
Aku melihat gunung yang serupa namun tak sama,
Gunung yang tak begitu kukenal,
Yang juga menampilkan keindahan,
Bunga-bunga tumbuh seirama
Menebarkan keharuman di tengah-tengah keheningan yang menyejukan
Penuh kelembutan dan kesederhanaan
Dan terasa begitu asing bagiku,
Seakan menyimpan sejuta rahasia yang sulit kumengerti.
Rahasia yang lambat laun mulai menguak di depan mataku,
Menyodorkan segenggam mutiara,
Mutiara yang sesaat lalu tampak begitu buruk dimataku
Begitu mengerikan,
Kusam tanpa berkilau.
Tapi..,
Mengapa kini…
Mengapa kini hatiku seakan merasakan sesuatu yang lain?
Mengapa mataku kini seolah-olah mulai melihat keindahan dibalik mutiara yang buruk dan mengerikan itu?
Menyingkapkan kebenaran yang indah namun begitu terasa menyakitkan hatiku?
Adakah yang salah dengan hatiku?
Ataukah gunung itu yang salah?
Gunung yang mana?
Yang kiri atau yang kanan?

Di manakah Engkau berada,
hai gembala yang baik?
Ke manakah Engkau memanggil aku pulang?

Pulang ke mana?
Ke gunung yang mana?

Ah, Tuhan!
Tahukah Kau, kalau aku linglung dibuatnya?
Linglung karena ketakutanku,
Takut kalau-kalau aku salah melangkah,
Takut kalau-kalau aku menyakiti hati-Mu,
Mengecewakan gembalaku yang sudah sangat kucintai, kukasihi, dan yang kuharapkan kedatangan-Nya untuk menjemput aku masuk ke dalam kemuliaan-Nya yang abadi.

Datanglah, hai gembala yang baik!
Datanglah sekarang juga untuk menolong aku!
Karena aku benar-benar linglung dibuatnya.

Jangan diam terlalu lama!
Jangan Kau biarkan aku linglung kelamaan!

Hanya Engkau saja yang akan kuturuti.
Aku takkan mau turut yang lain.
Hanya Kau!
Hanya Kau saja yang sanggup membawa aku pulang ke rumah-Mu.
Ke rumah yang telah Kau siapkan bagiku.
Bagi kita berdua!
***

Jadikanlah Aku

JADIKANLAH AKU…

30 NOVEMBER 2007


Tuhan,
Bagaikan merpati, jadikanlah aku tulus,
Bagaikan bulu domba, jadikanlah hatiku putih bersih;
Bagaikan bunga mawar, jadikanlah aku lembut dan harum;

Agar aku menyukakan-Mu;
Agar hatiku memuliakan-Mu.

Jernih dan menyejukan, bagaikan mata air di pegunungan;
Lembut dan menggembirakan, bagai embun di pagi hari.

Aku mau jadi seperti lilin yang bersinar di dalam kegelapan;
Aku mau jadi seperti bintang-bintang yang bercahaya menghiasi langit malam.

Tuhan,
Jadikanlah aku terang-Mu yang menggapai kegelapan;
Jadikanlah aku hati-Mu yang membawa kasih dan kedamaian;

O Tuhan,
Jadikanlah aku berkat bagi sesamaku
Jadikanlah aku kesukaan bagi-Mu dan orang lain.

PERASAAN YANG CEPAT BERUBAH

PERASAAN YANG CEPAT BERUBAH

RABU, 19 DES 2007


Tuhan,
Mengapa perasaan hatiku ini begitu cepat berubah?

Terkadang aku bagaikan gunung berapi yang siap meletus,
Tetapi tak lama berselang, aku bisa menjadi gunung es yang diam membeku.

Sesaat lalu aku bagaikan anak sungai yang tenang mengalir,
Tetapi sesaat kemudian aku bisa menjadi gelombang samudra yang dasyat mengamuk

Di pagi hari aku tampil bagaikan anak burung yang menyenandungkan pujian,
Tapi di malam hari aku mengaum bagaikan anak singa yang siap menerkam.

Disatu sisi, aku bergairah bagaikan seekor anak kijang,
Tapi, secepat anak kijang itu berlari,
Secepat itu pulalah kegairahanku kembali meredup,
Berjalan tenang bagaikan seekor siput kecil,
Yang Menyusuri hutan belantara.

Kemarin aku berani bagaikan prajurit yang siap bertempur,
Tetapi sekarang,
aku kembali berdiri diam di tempat bagaikan sebatang pohon yang menanti turunnya butir hujan.

Semangat bagaikan anak panah yang siap melesat tinggi,
Terbang cepat menembus awan kelabu,
Namun tiba-tiba terhenti dan mengendur di saat tali busur itu belum juga terpentang,


Tuhan,
Mengapa perasaan hatiku ini begitu cepat berubah?
Berubah cepat bagaikan siang dan malam.
Bagaikan kenyang dan lapar,
Bagaikan puas dan dahaga,
Bagaikan panas dan dingin.

Tuhan,
Ajarkan aku akan kelemahlembutan,
Ajarkan aku akan kemurahan dan kesabaran
Ajarkan aku akan hati-Mu.

Tenang dan menyejukan, bagaikan mata air di pegunungan,
Indah dan harum, bagaikan sekuntum bunga mawar
Hangat dan menggembirakan, bagaikan mentari pagi di musim semi.

Tuhan,
Sematkanlah hati-MU di hatiku,
pikiran-Mu di dalam pikiranku,
Supaya aku mampu merasa seperti yang Kau rasakan,
Dan Berpikir seperti yang Kau pikirkan.

Tuhan,
Aku mau menjadi seperti yang Kau inginkan terjadi pada diriku.

HADIAH ULANG TAHUNKU YANG KE-26

HADIAH ULANG TAHUNKU YANG KE-26

(Dilamar)

11-11-2007

Di hari ke-11, pada bulan ke-11, tahun 2007

Langit bersinar cerah,
Mentari tersenyum ceriah,
Menghalau datangnya awan mendung,
Menahan turunnya butir hujan,
Burungpun berkicau riang,
Seakan mereka turut merayakan kegembiraanku.

Jari-jari mama yang lembut dan trampil
Menjadikan hariku jadi lebih menawan
Cantiknya tirai sutra,
Harumnya bunga-bunga mawar,
Seolah telah membawa jiwaku terbang menembus awan-awan keindahan.

Aku bergerak bagaikan burung kaswari
Yang Terbalut gaun merah jambu nan lembut dan cantik menawan
dengan cinta dan kemahirannya,
Mama menjadikanku laksana putri kehormatan

Di hari ke-11, pada bulan ke-11
Seuntai kalung terjuntai indah menghiasi leherku,
Tanda sebuah cinta yang murni mulai menyatu,
terpaut bagaikan rantai baja yang takkan pernah terputus.

Kini aku bukanlah lagi seekor burung kecil yang terbang sendiri,
Melintasi awan cerah dan kelabu
Kini aku akan terbang bersamanya,
Menghadapi gelapnya malam,
Menyambut datangnya sang surya pagi.

Puluhan mata turut menyaksikan terpautnya sepasang hati
Sepasang hati yang kian tertambat pada batu karang kesetiaan,
Doa-doa terpanjat dari hati-hati yang tulus
Menghantar kami pada kehidupan yang lebih indah.

Terimakasih Yesus,
Kau jadikan aku begitu indah,
Dengan kebahagiaan yang tak pernah sirna
Kau sematkan jariku ke dalam genggaman tangan seoarang yang Kau kasihi,
Seorang yang istimewa di dalam pandangan-Mu,
Seperti aku yang merasa begitu istimewa di dalam hati-Mu.

Oh Yesus,
Aku syukuri segala kemurahan-Mu
Aku syukuri akan orang tua yang begitu menyayangiku
Akan cinta kekasih yang Kau bawa ke hadapanku,
Akan kebahagiaan yang senantiasa Kau limpahkan ke atas kepalaku.
Bagaikan butir hujan yang tercurah membasahi sekujur tubuhku
Begitulah cinta-Mu telah membasuh seluruh hati dan jiwaku.

Oh Yesus,
Bagai batu berlian, Kau jadikan aku tampak begitu berharga di mata-Mu,
Bagai permata mustika, Hadiah-Mu begitu mempesona bagiku

Di hari ke-11, pada bulan ke-11,
Akan menjadi hari istimewa bagi aku dan dia