Amsal 29:23 Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.
Kancil, kuda dan keledai adalah sahabat dekat. Mereka selalu bermain bersama-sama. Meskipun kuda dan kancil sering mengata-ngatai keledai si bodoh, namun keledai tidak pernah marah atau tersinggung. Keledai tetap menunjukan sikap bersahabat.
Keledai memang binatang yang lamban dan bodoh. Setiap kali mereka sedang bermain, keledai selalu jadi yang terbelakang. Sementara kuda dan kancil merupakan binatang yang cepat, pintar dan tangkas, dan mereka merasa bangga dengan kelebihan yang mereka miliki itu.
"Untung aku tidak seperti si keledai dungu!" Kata kuda dengan bangga saat mereka sedang berlomba menangkap kupu-kupu.
"Ya. Beruntung juga aku adalah seekor kancil yang dapat berlari sangat cepat dan terkenal cerdik!" Timpal si kancil tak mau kalah.
Mendengar celotehan kedua temannya, keledai hanya menunduk sedih. Sudah seharian dia berlari-lari mengelilingi taman, namun tak satu pun kupu-kupu berhasil dia tangkap. Sementara kuda sudah berhasil memperoleh lima kupu-kupu, dan kancil enam kupu-kupu.
"Huh," Terdengar kuda mendengus, "Seberapa pun cepatnya kau berlari, tetap saja masih lebih cepat aku!"
"Enak saja!" sahut kancil marah, "buktinya aku bisa mendapatkan kupu-kupu lebih banyak dari pada kamu!"
"Itu karena... Brak!... Aduh!" Kuda yang sedang memandang kancil sambil berlari mengejar kupu-kupu tak sengaja menabrak pohon sampai terjatuh dan kepalanya pusing tujuh keliling.
"hua ha ha ha ha..." Kancil tertawa terbahak-bahak sambil melompat-lompat kegirangan. "Tahu rasa kamu, kuda!" serunya mencemooh.
Keledai yang sedang beristirahat karena sudah lelah mengejar kupu-kupu yang belum juga berhasil dia tangkap, memandang kuda dengan perasaan kasihan, lalu dia menghampiri kuda dan mengusap-usap hidung kuda yang bengkak akibat terbentur batang pohon tadi.
Kuda yang melihat kebaikan keledai menjadi malu dan menyesal karena sudah mengolok-oloknya, sementara itu kancil masih menertawai kuda habis-habisan.
"Maafkan aku, keledai, karena aku sudah jahat padamu." kata kuda penuh penyesalan. "Ternyata kamu adalah teman sejati. Aku bersyukur sekali memiliki teman baik dan rendah hati sepertimu."
Kancil yang mendengar perkataan kuda langsung terdiam. Dia sadar bahwa dirinya bukan teman yang baik, bukan teman sejati karena sudah bersikap sombong dan bergembira di atas penderitaan sahabatnya sendiri.
"Maafkan aku juga ya, keledai." kata kancil kemudian kepada keledai.
Keledai pun mengangguk sambil tersenyum bahagia.
Mulai hari itu, kancil dan kuda tak pernah lagi mengata-ngatai keledai, melainkan mereka mencontoh sikap keledai yang selalu sabar dan rendah hati. Dengan demikian, mereka menjadi lebih bahagia dan rukun satu sama lain.
Adik-adik yang dikasihi Tuhan Yesus,
belajarlah bersikap seperti keledai yang rendah hati, tidak sombong, tidak suka membalas perbuatan jahat dengan perbuatan jahat lagi, melainkan dengan perbuatan penuh kasih, maka kita akan menyenangkan hati Tuhan, karena Tuhan memberi pujian kepada setiap anak-anak-Nya yang rendah hati.
Mari kita berdoa:
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.
Tuhan Yesus, berilah kepadaku roh yang rendah hati dan penuh kasih, agar aku dapat menjadi saksiMu dan selalu menyenangkan hatiMu yang kudus dan penuh dengan belas kasih. Di dalam namaMu aku berdoa. Amin.
Bapa kami...
Salam Maria...
Kemuliaan...
Aku seorang tunanetra, penderita Retinitis Pigmentosa. Tatkala kesedihan dan rasa sepi menghimpit jiwaku, maka aku akan segera memutar sebuah nomor telepon rahasia yang dapat langsung terhubung dengan rumah Bapaku: Y0h4n35146. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." *Mat 11:28*
Rabu, 19 Oktober 2011
Renungan Anak : Anak Pemalas Kena Batunya
Amsal 21:25 Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja.
Sejak kecil, Ficka sudah diangkat anak oleh orang tua Icha. Oleh karena itu, Ficka dan Icha selalu terlihat bersama-sama, baik saat di sekolah, maupun di rumah. Ayah Icha memang mendaftarkan Ficka di sekolah yang sama dengan anaknya, agar mereka bisa selalu bersama-sama.
Ficka sadar kalau dia hanyalah seorang anak angkat, makanya dia selalu bersedia membantu apa saja yang dia bisa lakukan. Seperti membantu ibu angkatnya membereskan rumah, memasak, sampai membantu Icha mengerjakan PR.
Sebaliknya, Icha selalu menyuruh Ficka mengerjakan apa saja yang dia minta, seperti mengambilkan minum, membereskan mainan yang baru saja selesai dimainkan oleh mereka berdua, menyetrikakan baju seragamnya, sampai mengerjakan semua tugas-tugas sekolahnya.
Di kelas, Icha sengaja duduk satu meja dengan Ficka, sehingga saat ujian, dia bisa menyontek jawaban Ficka, karena Ficka sudah belajar di rumah, sementara dia sendiri hanya bermalas-malasan.
"Buat apa aku belajar, toh, nanti aku tinggal menyontek saja hasil jawaban Ficka!" Kata Icha ketika ditanya ibunya mengapa dia tidak belajar seperti Ficka.
Icha memang sudah merasa keenakan dengan adanya Ficka di sampingnya. Dia berpikir kalau Ficka takut padanya, karena Ficka hanyalah seorang anak angkat yang menumpang di rumahnya.
Suatu hari, saat ujian kelulusan dilaksanakan, Seperti biasa Icha tidak mau belajar sama sekali, karena dia sudah yakin kalau dia bisa melihat jawaban Ficka yang duduk tepat di sebelahnya.
Tapi, ketika ujian sudah hendak dimulai, tiba-tiba saja guru pengawas menyuruh beberapa murid untuk bertukar tempat duduk, dan salah satunya adalah Ficka.
"Ficka, kamu bertukar tempat duduk dengan Bernad!" seru guru pengawas itu kepada Ficka yang langsung meninggalkan tempat duduknya dan menuju ke tempat duduk Bernad, sementara Bernad berpindah duduk di sebelah Icha.
Melihat kenyataan ini, wajah Icha langsung saja menjadi pucat. Tidak pernah disangka sebelumnya kalau dia akan duduk berjauhan dengan Ficka, apalagi sekarang yang duduk di sebelahnya adalah Bernad yang juga merupakan anak malas belajar, dan sering mendapatkan nilai buruk.
"Mati deh aku sekarang!" keluh Icha dalam hati.
Ujian pun dimulai.
Icha sama sekali tidak dapat menjawab satu soal pun. Ketika dia hendak melirik jawaban Bernad, tiba-tiba saja kepalanya bertuburkan dengan kepala Bernad yang ternyata juga sedang mencoba melirik jawaban Icha. Sesaat mereka berdua saling berpandangan sambil mengusap-usap dahi mereka yang terasa sakit, akibat tadi saling berbenturan.
Icha benar-benar merasa menyesal sudah malas belajar. Tak dapat ditahan lagi dua air mata jatuh membasahi kertas ujian yang terletak di atas meja. Sekarang sudah terlambat. Semuanya hanya gara-gara dia menjadi anak pemalas.
Saat hasil kelulusan diumumkan, Ficka bersorak senang karena dia merupakan anak terbaik di kelasnya. Tapi kegembiraannya itu tidak bertahan lama ketika dia mendengar bahwa Icha tidak lulus ujian.
Nah, adik-adik yang manis, jadilah anak yang rajin seperti Ficka, karena anak pemalas suatu hari nanti pasti akan kena batunya. Gunakanlah kedua tanganmu untuk bekerja, membantu sesama, dan belajar. Keinginan besar akan menjadi sia-sia jika tidak disertai tangan yang rajin.
Tuhan sayang kepada anak yang rajin, dan Dia pasti akan memberkati anak-anak yang tidak suka bermalas-malasan.
Mari kita berdoa :
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.
Tuhan Yesus, ampuni saya jika selama ini saya merupakan anak yang pemalas. Malas belajar, malas membantu orang tua, dan juga suka malas berdoa. Saya mohon, berilah saya roh yang rajin, tangan yang rajin, dan kehendak untuk menjadi anak yang rajin, agar saya bisa menjadi berkat bagi orang lain. Di dalam nama Tuhan Yesus, Amin.
Sejak kecil, Ficka sudah diangkat anak oleh orang tua Icha. Oleh karena itu, Ficka dan Icha selalu terlihat bersama-sama, baik saat di sekolah, maupun di rumah. Ayah Icha memang mendaftarkan Ficka di sekolah yang sama dengan anaknya, agar mereka bisa selalu bersama-sama.
Ficka sadar kalau dia hanyalah seorang anak angkat, makanya dia selalu bersedia membantu apa saja yang dia bisa lakukan. Seperti membantu ibu angkatnya membereskan rumah, memasak, sampai membantu Icha mengerjakan PR.
Sebaliknya, Icha selalu menyuruh Ficka mengerjakan apa saja yang dia minta, seperti mengambilkan minum, membereskan mainan yang baru saja selesai dimainkan oleh mereka berdua, menyetrikakan baju seragamnya, sampai mengerjakan semua tugas-tugas sekolahnya.
Di kelas, Icha sengaja duduk satu meja dengan Ficka, sehingga saat ujian, dia bisa menyontek jawaban Ficka, karena Ficka sudah belajar di rumah, sementara dia sendiri hanya bermalas-malasan.
"Buat apa aku belajar, toh, nanti aku tinggal menyontek saja hasil jawaban Ficka!" Kata Icha ketika ditanya ibunya mengapa dia tidak belajar seperti Ficka.
Icha memang sudah merasa keenakan dengan adanya Ficka di sampingnya. Dia berpikir kalau Ficka takut padanya, karena Ficka hanyalah seorang anak angkat yang menumpang di rumahnya.
Suatu hari, saat ujian kelulusan dilaksanakan, Seperti biasa Icha tidak mau belajar sama sekali, karena dia sudah yakin kalau dia bisa melihat jawaban Ficka yang duduk tepat di sebelahnya.
Tapi, ketika ujian sudah hendak dimulai, tiba-tiba saja guru pengawas menyuruh beberapa murid untuk bertukar tempat duduk, dan salah satunya adalah Ficka.
"Ficka, kamu bertukar tempat duduk dengan Bernad!" seru guru pengawas itu kepada Ficka yang langsung meninggalkan tempat duduknya dan menuju ke tempat duduk Bernad, sementara Bernad berpindah duduk di sebelah Icha.
Melihat kenyataan ini, wajah Icha langsung saja menjadi pucat. Tidak pernah disangka sebelumnya kalau dia akan duduk berjauhan dengan Ficka, apalagi sekarang yang duduk di sebelahnya adalah Bernad yang juga merupakan anak malas belajar, dan sering mendapatkan nilai buruk.
"Mati deh aku sekarang!" keluh Icha dalam hati.
Ujian pun dimulai.
Icha sama sekali tidak dapat menjawab satu soal pun. Ketika dia hendak melirik jawaban Bernad, tiba-tiba saja kepalanya bertuburkan dengan kepala Bernad yang ternyata juga sedang mencoba melirik jawaban Icha. Sesaat mereka berdua saling berpandangan sambil mengusap-usap dahi mereka yang terasa sakit, akibat tadi saling berbenturan.
Icha benar-benar merasa menyesal sudah malas belajar. Tak dapat ditahan lagi dua air mata jatuh membasahi kertas ujian yang terletak di atas meja. Sekarang sudah terlambat. Semuanya hanya gara-gara dia menjadi anak pemalas.
Saat hasil kelulusan diumumkan, Ficka bersorak senang karena dia merupakan anak terbaik di kelasnya. Tapi kegembiraannya itu tidak bertahan lama ketika dia mendengar bahwa Icha tidak lulus ujian.
Nah, adik-adik yang manis, jadilah anak yang rajin seperti Ficka, karena anak pemalas suatu hari nanti pasti akan kena batunya. Gunakanlah kedua tanganmu untuk bekerja, membantu sesama, dan belajar. Keinginan besar akan menjadi sia-sia jika tidak disertai tangan yang rajin.
Tuhan sayang kepada anak yang rajin, dan Dia pasti akan memberkati anak-anak yang tidak suka bermalas-malasan.
Mari kita berdoa :
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.
Tuhan Yesus, ampuni saya jika selama ini saya merupakan anak yang pemalas. Malas belajar, malas membantu orang tua, dan juga suka malas berdoa. Saya mohon, berilah saya roh yang rajin, tangan yang rajin, dan kehendak untuk menjadi anak yang rajin, agar saya bisa menjadi berkat bagi orang lain. Di dalam nama Tuhan Yesus, Amin.
Minggu, 09 Oktober 2011
Renungan Anak: Si Kera Nakal
Matius 6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
Disuatu pagi yang cerah, ada seekor kera nakal yang sedang berjalan-jalan di kebun buah-buahan yang sangat luas milik pak tua, sambil sesekali ia melompat ke dahan-dahan pohon dan memetik buahnya untuk dimakan. Sudah banyak jenis buah yang berhasil ia makan, tapi ketika dia sedang asyik menikmati sebuah apel yang rasanya sangat manis, tak sengaja matanya melirik sebuah pohon yang berbuah lebat dan berwarna merah.
Air liurnyapun menetes membayangkan betapa enaknya rasa buah-buah merah itu yang belum pernah dia cicipi seumur hidupnya.
Akhirnya kera nakal itupun membuang setengah apel yang belum dihabisinya, dan langsung melompat ke pohon berbuah merah itu. Dengan tak sabar, ia memetik beberapa buah sekaligus dan langsung memakannya dengan sangat lahap.
Awalnya dia tak merasakan rasa asli dari buah merah itu, karena dipikirannya saat itu, buah itu pasti mempunyai rasa yang sangat manis dan menyebarkan bau yang sangat harum.
Tapi setelah beberapa saat, ia mulai merasakan sesuatu yang panas di dalam perutnya, dan lidahnya terasa sangat pedas. tak dapat dibendung lagi, air matanyapun mengalir deras.
"Oh, tidak!" jeritnya panik.
"Mengapa aku jadi merasa begini?"
Karena sudah tak tertahankan lagi, kera itu pun berlari-larian mengelilingi pohon itu, yang ternyata merupakan pohon cabai, dan sambil berteriak-teriak, ia terus melompat-lompat seperti kera gila. Mulutnya menganga lebar, wajahnya menjadi semerah cabai yang baru saja dia makan.
"Tolong..., tolong....!!, sh sh sh sh shhah ahhah... perutku panas sekali..., seperti terbakar...!!" Ia terus berlompatan ke sana-kemari.
"Air..., air..., sh sh sh shhah shhah..., aku butuh air...!!" " Kini dia berguling-guling di atas tanah, sambil terus berteriak-teriak.
Akhirnya tak lama kemudian, si kera nakal itupun jatuh pingsan.
Tak berapa lama kemudian, dari balik pepohonan, seorang bapak tua pemilik kebun tersebut datang menghampiri si kera yang masih pingsan itu.
"Aha, ini dia kera nakal yang suka mencuri buah-buahan milikku!" Kata si bapak tua sambil memondong tubuh si kera, lalu dibawanya ke belakang rumahnya.
Di situ sudah tersedia sebuah sangkar cukup besar untuk meletakkan si kera yang belum juga siuman dari pingsannya.
Setelah kera itu sadar, dilihatnya bahwa kini dia sedang berada di dalam kurungan milik pak tua. Betapa sedih hatinya, dan dia pun menyesali perbuatannya yang terlalu serakah dan tidak pernah merasa cukup.
Nah, adik-adik yang manis, kita sudah membaca kisah kera yang tidak pernah merasa cukup, semua ingin dilahapnya tanpa peduli dengan keadaan sekelilingnya. Dan akhirnya, kera itupun mendapatkan batunya. Kini dia harus tinggal di dalam kurungan setiap hari, dan harus menerima makanan apa saja yang diberikan oleh pak tua. Dia tak lagi bisa memilih jenis makanan yang dia sukai.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita dalam doa 'Bapa Kami' :
"Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.",
bukannya,
"berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang sebanyak-banyaknya.".
Itu berarti Tuhan menginginkan agar kita tidak menjadi serakah, tetapi selalu bersyukur dengan apa yang ada pada kita. Dan ingat ya adik-adik, jangan sekali-kali kita membuang-buang makanan yang sudah Tuhan berikan pada kita hari ini. , karena kalau kita membuang makanan, berarti kita tidak menghargai dan mensyukuri apa yang Tuhan beri.
Mari kita berdoa :
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.
Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk tidak menjadi serakah, tapi selalu bersyukur dan menghargai semua yang sudah Tuhan sediakan bagi diriku dan keluargaku, karena Tuhan tahu segala kebutuhanku dan yang terbaik bagi hidupku.
Demi Kristus, Tuhan dan Juru Selamatku. Amin.
Yuk, kita sama-sama daraskan doa Bapa kami...
Salam Maria...
Kemuliaan...
Salam dalam kasih Tuhan,
Rachel
Rabu, 28 September 2011
Renungan Anak: Bruno Dan Ringgo
Bruno Dan Ringgo
Titus 3:2.
Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.
Bruno dan Ringgo merupakan dua ekor anjing yang bersahabat. Tetapi persahabatan mereka rusak ketika suatu hari mereka memperebutkan sebuah tulang yang tergeletak di pinggir jalan.
Pertama-tama Bruno yang menemukan tulang itu, dan baru saja hendak mengambil dengan giginya, tiba-tiba Ringgo menyerobot dari belakangnya dan langsung menggigit tulang itu. Akhirnya merekapun bertengkar, saling menggigit, dan saling menggeram. Tulang itupun terlepas dari mulut Ringgo, dan tergeletak kembali di pinggir jalan.
Sementara mereka terus bertengkar., seekor anjing lain muncul dan secara diam-diam membawa pergi tulang itu.
Ketika Ringgo dan Bruno merasa lelah dan kesakitan, karena mereka sudah saling melukai satu sama lain, akhirnya kedua anjing itupun berhenti bertengkar. Dan pada saat mata keduanya mencari-cari tulang yang sudah membuat mereka bertengkar dan membuat tubuh keduanya sakit-sakit, mereka pun menjadi heran.
"Tulangnya sudah tidak ada lagi!... Tulangnya menghilang!" Seru mereka bersamaan.
Akhirnya merekapun menyesal karena telah melakukan tindakan yang sangat bodoh. Seandainya mereka tidak bertengkar..., seandainya Ringgo tidak merebut tulang yang ditemukan Bruno..., seandainya mereka bisa saling ramah satu sama lain, dan mau berbagi tulang dengan sahabatnya itu..., pasti saat ini mereka tidak kehilangan tulang tersebut, dan dapat menikmatinya dengan rasa senang dan bersahabat.
Adik-adik yang manis,
janganlah kita bersikap seperti Bruno dan Ringgo yang bertengkar hanya karena memperebutkan sebuah tulang. Tapi ambillah pelajaran dari pengalaman kedua anjing itu yang kehilangan tulangnya karena mereka tidak mau saling berbagi dan bersikap ramah terhadap satu sama lain.
Jadilah anak yang ramah dan lemah lembut, mau saling berbagi dan menjauhi pertengkaran yang hanya merugikan bukan saja diri kita sendiri, tetapi juga teman-teman yang kita sayangi. Karena pertengkaran akan menghancurkan persahabatan.
Mari kita berdoa :
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.
Tuhan Yesus,
Bantulah aku untuk menjauhi pertengkaran dengan siapapun, dan ajarilah aku untuk bersikap ramah terhadap semua orang, agar namaMu selalu dimuliakan melalui hidupku.
Di dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.
Lanjutkan dengan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus, yaitu doa Bapa kami.
Kemudian mari kita menyapa Bunda kita dan memohon doanya dengan berdoa Salam Maria dan ditutup dengan Kemuliaan.
Salam dalam kasih Tuhan,
Rachel
Rabu, 21 September 2011
Renungan Anak: Ayam Dan Bebek
Amsal 14 : 30.
Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.
Seekor ayam bertanya kepada seekor bebek :
"Bebek, kenapa sih telormu selalu terjual lebih mahal dari pada punyaku?"
"Ya, karena telorku lebih besar dari pada telormu!"" Jawab bebek lembut.
Setelah mendengar jawaban bebek, ayam menjadi murung dan sedih, sampai-sampai dia tidak mau makan, sehingga membuat tubuhnya menjadi kurus dan lemah. . Akhirnya bebek yang merasa kasihan melihat keadaan temannya itu, menghampiri ayam dan bertanya :
"Kenapa mukamu selalu murung dan kelihatan sedih, sampai-sampai tubuhmu menjadi kurus seperti ini?"
"Karena aku ingin mempunyai telor sebesar telormu agar bisa terjual dengan harga yang lebih mahal!" jawab ayam lirih.
"o..., jadi kamu iri hati pada telorku yang lebih besar dan lebih mahal dari pada telormu?" sahut bebek prihatin. "coba saja kamu bayangkan bagaimana kalau kamu juga menghasilkan telor-telor sebesar telorku, bukankah kamu akan merasa sangat kesakitan, karena tubuhmu tidak sebesar tubuhku. Dan tidak tahukah kamu kalau banyak sekali anak-anak yang lebih menyukai rasa telormu dari pada telorku, karena telormu biarpun kecil tapi sangat baik bagi kesehatan? Dan lihat, akibat kamu merasa iri hati dan bersedih, membuat hasil telor-telormu sekarang menjadi buruk!"
Mendengar penjelasan bebek yang baik hati itu, akhirnya ayam pun mulai mengerti dan berjanji dalam hatinya kalau dia tidak mau lagi iri hati hanya karena telornya yang lebih kecil dan lebih murah dari pada telor bebek, karena dengan iri hati dapat membuat hatinya menjadi sedih, sehingga membuat tubuhnya menjadi tidak sehat, hasil telornya pun menjadi lebih buruk.
Nah, adik-adik yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
janganlah kita bersikap seperti ayam yang dikuasai iri hati, karena iri hati dapat membuat keadaan kita menjadi lebih buruk. Mari kita perhatikan lagi apa yang dikatakan kitab Amsal : Iri hati hanya menyebabkan tulang kita menjadi busuk, tetapi hati yang tenang menyegarkan tubuh.
Tuhan sudah memberikan yang terbaik kepada kalian masing-masing, ada yang diberi kepandaian melukis, berhitung, berenang, menyanyi, bahkan pandai berdoa. peliharalah itu, dan kembangkanlah sesuai potensi yang ada pada kalian. Niscaya, kalian akan menjadi anak yang lebih baik lagi dari pada sebelumnya, dan lebih menyenangkan hati Tuhan, karena berarti kalian sudah mensyukuri apa yang Tuhan percayakan kepada kalian masing-masing.
Mari kita berdoa :
Tuhan Yesus,
jadikanlah aku anak yang memiliki hati tenang, agar aku selalu bersyukur. Dan buanglah segala perasaan iri hati yang hanya membuatku bersedih dan marah. Bantulah aku untuk mampu memelihara dan mengembangkan potensi yang sudah Tuhan berikan padaku untuk kemuliaan namaMu.
Di dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.
Salam dalam kasih Tuhan,
Rachel
Senin, 02 Mei 2011
(Lagu) Allah Itu Hidup
VIVIT DOMINUS IN CUIUS CONSPECTU STO
Setiap kali aku teringat akan pertolongan Tuhan dalam seluruh kehidupanku, sungguh aku merasa Tuhan itu berada dekat sekali denganku, bahkan Dia tinggal di dalam hatiku.
Apalagi saat mengingat kembali proses aku bisa diterima bekerja di PT. Mulia Keramik Indah Raya, benar-benar membuatku terpesona dan juga terharu. Begitu baik-Nya Tuhan, sementara aku sendiri seringkali begitu jahat. Bahkan aku sering kali malas berdoa.
Di tahun 2003, di mana aku telah berhasil menyelesaikan kuliahku dan memperoleh gelar sebagai sarjana pendidikan, dan sedang kebingungan untuk mencari pekerjaan, karena sudah banyak teman tunanetra yang lain sangat sulit mendapat pekerjaan hanya karena kecacatan mereka, padahal gelar sarjana juga sudah mereka sandang. Setiap malam aku hanya bisa membawanya dalam doa. Pada saat hari ulang tahunku juga, aku hanya make a wish about job. Tepatnya di bulan Desember, sebulan setelah aku di wisuda, aku diundang melalui telepon oleh orang yang sama sekali tidak kukenal untuk menyampaikan kesaksian hidupku di acara Natal kantornya. Nama orang itu adalah Henny Susanti. Dia bilang kalau dia pernah mendengar kesaksianku di
Gereja Nafiri Allah Greenville.
Ketika aku memasuki gedung Gereja di mana acara Natal itu diadakan, sekonyong-konyong aku mendengar sebuah bisikan yang sangat jelas sekali. Bisikan itu seperti terdengar di telingaku, tapi juga seperti muncul dari hatiku. Bisikan itu berkata : "Kamu akan bekerja di sini".
Pada saat itu, aku hanya berpikir kalau bisikan itu pastilah muncul dari hatiku sendiri yang memang sangat merindukan sebuah pekerjaan. Setelah mendengar bisikan itu, aku malah berdoa dalam hati, "Ya Tuhan, seandainya aku boleh bekerja di sini..."
Menurut susunan acara panitia, seharusnya aku tampil pada acara terakhir sebelum penutup. Tapi Tuhan ternyata punya rencana lain. Pendeta yang menyampaikan khotbah saat itu terlambat datang, akhirnya panitia menyuruh aku tampil di awal acara, di sela-sela praise & worship. Setelah aku selesai bersaksi, acara dilanjutkan dengan penyalaan lilin Natal. Tiba-tiba seorang bapak menghampiriku dan bertanya kepadaku :
"Sudah selesai sekolahnya?"
"Sudah, pak." jawabku.
"Sudah bekerja?" Tanyanya lagi.
"Belum."
"Mau bekerja?"
"Mau, pak."
"Ya sudah, kamu bekerja dengan saya saja!"
Ternyata bapak itu adalah pemilik perusahaan tersebut. Kemudian aku mendengar bapak itu berbicara dengan seseorang bapak lain yang sedang berdiri di sebelahnya mengenai penerimaan diriku sebagai karyawannya. Baru kuketahui di kemudian hari kalau bapak yang diajak bicara oleh pemilik perusahaan itu adalah direktur HRD.
Saat itu aku percaya kalau bisikan yang kudengar ketika memasuki gedung Gereja tadi pastilah suara Tuhan. Tuhan telah memberitahuku terlebih dahulu sebelum bapak pemilik perusahaan itu berbicara kepadaku.
Setelah itu acara pun dilanjutkan dengan penyampaian khotbah Natal. Selesai khotbah, bapak pemilik perusahaan itu pun pulang, tidak mengikuti acara hingga akhir. Seandainya pengkhotbah saat itu tidak terlambat datang, dan panitia tidak menyuruhku untuk tampil di awal acara, melainkan membiarkanku tetap tampil di akhir acara. Pastilah bapak pemilik perusahaan itu tidak akan pernah mendengar kesaksianku, dan itu berarti kesempatanku untuk diterima bekerja dengannya pun hilang.
Aku begitu gembira dan benar-benar tak bisa percaya dengan kejadian itu. Sampai tiba di rumah pun, aku masih merasa kalau semua itu seperti dalam mimpi saja.
Selang beberapa hari, seorang wanita meneloponku, memintaku datang ke kantornya di Kuningan, Jakarta Selatan, untuk proses wawancara. Aku bilang padanya kalau ijasahku pun belum kuterima dari kampus, karena aku baru diwisuda bulan kemarin.
"Tidak masalah, kamu bawa CV saja. Itu pun hanya sebagai formalitas." jawabnya.
Aku pun datang sesuai hari yang ditentukan. Di sana sudah banyak calon karyawan yang sedang mengikuti test. Aku hanya duduk saja di bagian belakang, tak tahu harus berbuat apa, karena pelaksana test tidak memberiku lembar test. Kemudian seorang wanita memanggilku untuk diwawancara olehnya. Selesai di wawancara, aku pindah ke meja bapak Direktur HRD yang waktu di acara Natal diajak bicara oleh bapak pemilik perusahaan itu.
Dia menanyaiku kapan aku akan mulai kerja. Aku bilang awal tahun saja, berhubung waktu itu sudah pertengahan bulan Desember. Dan dia pun menyetujuinya.
Begitulah, akhirnya aku mulai bekerja di PT. Mulia Keramik Indah Raya pada awal Januari di tahun 2004 hingga hari ini.
Henny bercerita kepadaku, kalau sebenarnya waktu itu panitia sudah mengundang artis-artis rohani untuk mengisi acara kesaksian, tapi entah mengapa, satu per satu artis-artis itu mengundurkan diri. Untung saja Henny langsung teringat padaku, dan dia pun langsung menghubungi pihak Gereja Nafiri Allah untuk meminta nomer teleponku.
Sampai sekarang, masih ada teman-teman kantor yang menyangka kalau aku ini saudara dari bapak pemilik perusahaan. Malah seorang sekuriti pernah bercerita kepadaku kalau para sekuriti menganggap aku ini mata-mata big boss!
VIVIT DOMINUS IN CUIUS CONSPECTU STO,, kalimat indah ini kukutip dari Lembah Karmel Puncak. Artinya begitu indah sekali : "Allah Itu Hidup Dan Aku Berdiri Di HadapanNya"
Sungguh Allah hidup!
Dia hidup di dalam hatiku, berdaulat penuh atas hidupku.
Terima kasih banyak, Yesus!
Kau sungguh teramat baik buatku.
Tak tahu aku harus bagaimana agar dapat membalas semua kebaikan-Mu yang tak terkira.
Alih-alih hendak menyenangkan hati-Mu, aku malah seringnya melukai hati-Mu dengan ulahku.
O Yesusku, Allah dan Sahabatku,
aku mau bersaksi di mana pun, kapan pun, dan kepada siapa pun tentang semua kebaikan yang telah kuterima dari-Mu,
sehingga biarlah nama-Mu kian masyur di seluruh bumi!
***
LAGU : ALLAH ITU HIDUP
BY : Rachel Stefanie Halim
Saat hatiku lemah,
kuberseru kepada-Nya,
Tuhan kan segera datang menolong.
Dia berkata : "Jangan takut, Aku sertamu."
Hatiku pun memandang-Nya dan percaya.
REFF :
Allah itu hidup,
dan aku berdiri di hadapan-Nya sebagai anak kesayangan.
Allah itu hidup,
Dia sungguh mendengar,
dan berbicara di dalam hatiku.
***
Setiap kali aku teringat akan pertolongan Tuhan dalam seluruh kehidupanku, sungguh aku merasa Tuhan itu berada dekat sekali denganku, bahkan Dia tinggal di dalam hatiku.
Apalagi saat mengingat kembali proses aku bisa diterima bekerja di PT. Mulia Keramik Indah Raya, benar-benar membuatku terpesona dan juga terharu. Begitu baik-Nya Tuhan, sementara aku sendiri seringkali begitu jahat. Bahkan aku sering kali malas berdoa.
Di tahun 2003, di mana aku telah berhasil menyelesaikan kuliahku dan memperoleh gelar sebagai sarjana pendidikan, dan sedang kebingungan untuk mencari pekerjaan, karena sudah banyak teman tunanetra yang lain sangat sulit mendapat pekerjaan hanya karena kecacatan mereka, padahal gelar sarjana juga sudah mereka sandang. Setiap malam aku hanya bisa membawanya dalam doa. Pada saat hari ulang tahunku juga, aku hanya make a wish about job. Tepatnya di bulan Desember, sebulan setelah aku di wisuda, aku diundang melalui telepon oleh orang yang sama sekali tidak kukenal untuk menyampaikan kesaksian hidupku di acara Natal kantornya. Nama orang itu adalah Henny Susanti. Dia bilang kalau dia pernah mendengar kesaksianku di
Gereja Nafiri Allah Greenville.
Ketika aku memasuki gedung Gereja di mana acara Natal itu diadakan, sekonyong-konyong aku mendengar sebuah bisikan yang sangat jelas sekali. Bisikan itu seperti terdengar di telingaku, tapi juga seperti muncul dari hatiku. Bisikan itu berkata : "Kamu akan bekerja di sini".
Pada saat itu, aku hanya berpikir kalau bisikan itu pastilah muncul dari hatiku sendiri yang memang sangat merindukan sebuah pekerjaan. Setelah mendengar bisikan itu, aku malah berdoa dalam hati, "Ya Tuhan, seandainya aku boleh bekerja di sini..."
Menurut susunan acara panitia, seharusnya aku tampil pada acara terakhir sebelum penutup. Tapi Tuhan ternyata punya rencana lain. Pendeta yang menyampaikan khotbah saat itu terlambat datang, akhirnya panitia menyuruh aku tampil di awal acara, di sela-sela praise & worship. Setelah aku selesai bersaksi, acara dilanjutkan dengan penyalaan lilin Natal. Tiba-tiba seorang bapak menghampiriku dan bertanya kepadaku :
"Sudah selesai sekolahnya?"
"Sudah, pak." jawabku.
"Sudah bekerja?" Tanyanya lagi.
"Belum."
"Mau bekerja?"
"Mau, pak."
"Ya sudah, kamu bekerja dengan saya saja!"
Ternyata bapak itu adalah pemilik perusahaan tersebut. Kemudian aku mendengar bapak itu berbicara dengan seseorang bapak lain yang sedang berdiri di sebelahnya mengenai penerimaan diriku sebagai karyawannya. Baru kuketahui di kemudian hari kalau bapak yang diajak bicara oleh pemilik perusahaan itu adalah direktur HRD.
Saat itu aku percaya kalau bisikan yang kudengar ketika memasuki gedung Gereja tadi pastilah suara Tuhan. Tuhan telah memberitahuku terlebih dahulu sebelum bapak pemilik perusahaan itu berbicara kepadaku.
Setelah itu acara pun dilanjutkan dengan penyampaian khotbah Natal. Selesai khotbah, bapak pemilik perusahaan itu pun pulang, tidak mengikuti acara hingga akhir. Seandainya pengkhotbah saat itu tidak terlambat datang, dan panitia tidak menyuruhku untuk tampil di awal acara, melainkan membiarkanku tetap tampil di akhir acara. Pastilah bapak pemilik perusahaan itu tidak akan pernah mendengar kesaksianku, dan itu berarti kesempatanku untuk diterima bekerja dengannya pun hilang.
Aku begitu gembira dan benar-benar tak bisa percaya dengan kejadian itu. Sampai tiba di rumah pun, aku masih merasa kalau semua itu seperti dalam mimpi saja.
Selang beberapa hari, seorang wanita meneloponku, memintaku datang ke kantornya di Kuningan, Jakarta Selatan, untuk proses wawancara. Aku bilang padanya kalau ijasahku pun belum kuterima dari kampus, karena aku baru diwisuda bulan kemarin.
"Tidak masalah, kamu bawa CV saja. Itu pun hanya sebagai formalitas." jawabnya.
Aku pun datang sesuai hari yang ditentukan. Di sana sudah banyak calon karyawan yang sedang mengikuti test. Aku hanya duduk saja di bagian belakang, tak tahu harus berbuat apa, karena pelaksana test tidak memberiku lembar test. Kemudian seorang wanita memanggilku untuk diwawancara olehnya. Selesai di wawancara, aku pindah ke meja bapak Direktur HRD yang waktu di acara Natal diajak bicara oleh bapak pemilik perusahaan itu.
Dia menanyaiku kapan aku akan mulai kerja. Aku bilang awal tahun saja, berhubung waktu itu sudah pertengahan bulan Desember. Dan dia pun menyetujuinya.
Begitulah, akhirnya aku mulai bekerja di PT. Mulia Keramik Indah Raya pada awal Januari di tahun 2004 hingga hari ini.
Henny bercerita kepadaku, kalau sebenarnya waktu itu panitia sudah mengundang artis-artis rohani untuk mengisi acara kesaksian, tapi entah mengapa, satu per satu artis-artis itu mengundurkan diri. Untung saja Henny langsung teringat padaku, dan dia pun langsung menghubungi pihak Gereja Nafiri Allah untuk meminta nomer teleponku.
Sampai sekarang, masih ada teman-teman kantor yang menyangka kalau aku ini saudara dari bapak pemilik perusahaan. Malah seorang sekuriti pernah bercerita kepadaku kalau para sekuriti menganggap aku ini mata-mata big boss!
VIVIT DOMINUS IN CUIUS CONSPECTU STO,, kalimat indah ini kukutip dari Lembah Karmel Puncak. Artinya begitu indah sekali : "Allah Itu Hidup Dan Aku Berdiri Di HadapanNya"
Sungguh Allah hidup!
Dia hidup di dalam hatiku, berdaulat penuh atas hidupku.
Terima kasih banyak, Yesus!
Kau sungguh teramat baik buatku.
Tak tahu aku harus bagaimana agar dapat membalas semua kebaikan-Mu yang tak terkira.
Alih-alih hendak menyenangkan hati-Mu, aku malah seringnya melukai hati-Mu dengan ulahku.
O Yesusku, Allah dan Sahabatku,
aku mau bersaksi di mana pun, kapan pun, dan kepada siapa pun tentang semua kebaikan yang telah kuterima dari-Mu,
sehingga biarlah nama-Mu kian masyur di seluruh bumi!
***
LAGU : ALLAH ITU HIDUP
BY : Rachel Stefanie Halim
Saat hatiku lemah,
kuberseru kepada-Nya,
Tuhan kan segera datang menolong.
Dia berkata : "Jangan takut, Aku sertamu."
Hatiku pun memandang-Nya dan percaya.
REFF :
Allah itu hidup,
dan aku berdiri di hadapan-Nya sebagai anak kesayangan.
Allah itu hidup,
Dia sungguh mendengar,
dan berbicara di dalam hatiku.
***
Rabu, 20 April 2011
(LAGU) HATI KUDUS YESUS
Oh, hati kudus Yesus,
Hati yang penuh dengan cinta kasih.
Kuberharap padaMU selalu,
S'bab hanya Kaulah andalanku.
Oh, hati kudus Yesus,
Lautan kerahiman bagi yang percaya.
Kuserahkan diriku padaMU,
Di dalamMU kumerasa aman.
REFF:
Ya, hati kudus Yesus,
Kuberharap padaMU.
Pada siapa lagi ku akan mengetuk,
Kalau bukan pada hatiMU.
Langganan:
Postingan (Atom)