PENCOBAAN-PENCOBAAN YANG DIKIRIM TUHAN KEPADA JIWA YANG DIKASIHINYA SECARA ISTIMEWA; GODAAN-GODAAN DAN KEGELAPAN; SETAN
Kasih jiwa (kepada Tuhan) masih belum sebanyak yang dikehendaki Tuhan. Jiwa sekonyong-konyong kehilangan persepsi yang jelas akan kehadiran Tuhan. Berbagai cacat cela dan kekurangan muncul dalam jiwa dan ia harus melawannya sekuat tenaga. Segala kelemahan menampilkan diri, tetapi kewaspadaan jiwa meningkat. Kesadaran awal akan kehadiran Tuhan undur diri dan memberikan tempatnya pada kebekuan dan kekeringan rohani; jiwa tak menikmati doa; jiwa tak mampu berdoa, baik dengan caranya yang lama maupun dengan cara doa yang baru saja dimulainya. Jiwa bergulat begitu rupa, namun tak mendapati kelegaan. Tuhan menyembunyikan Diri darinya; jiwa tak mendapati penghiburan dalam makhluk ciptaan, pula tak seorang pun dari makhluk ciptaan yang dapat menghiburnya. Jiwa sangat rindu akan Tuhan, namun ia hanya melihat kemalangannya semata; jiwa mulai menyadari keadilan Tuhan; jiwa merasa bahwa ia telah kehilangan segala rahmat yang diberikan Tuhan kepadanya; akal budinya suram dan kegelapan meliputinya; siksaan yang tak terkatakan mulai mendera. Jiwa berusaha menjelaskan keadaannya kepada bapa pengakuan, namun ia tidak dimengerti dan diserang bahkan dengan kegalauan yang terlebih lagi. Setan memulai karyanya.
Iman jatuh bangun dalam pergulatan; sungguh sengitlah pertarungan. Jiwa berusaha keras bertaut pada Tuhan dengan tindakan kehendak. Dengan ijin Tuhan, setan bahkan bertindak lebih jauh: pengharapan dan kasih diuji. Pencobaan-pencobaan ini sungguh mengerikan. Tuhan menopang jiwa secara diam-diam, begitulah. Jiwa tak menyadari hal ini, tetapi jika tidak demikian, pastilah mustahil jiwa dapat bertahan; dan Tuhan tahu betul berapa jauh Ia mengijinkan hal-hal itu menimpa jiwa. Jiwa dicobai untuk tidak mempercayai kebenaran-kebenaran yang telah diwahyukan dan untuk tidak tulus terhadap bapa pengakuan. Setan membujuknya, “Lihat, tak seorang pun mengerti engkau; mengapa menceritakan semua ini?” Kata-kata memperdengarkan suaranya yang ngeri ke telinga, dan jiwa merasa kata-katanya menghujat Tuhan. Jiwa melihat apa yang tak hendak dilihatnya. Jiwa mendengar apa yang tak hendak didengarnya. Dan, oh, betapa ngerinya pada masa-masa seperti ini, jiwa tak memiliki seorang bapa pengakuan yang berpengalaman! Jiwa harus memanggul seluruh bebannya seorang diri. Namun demikian, sejauh itu mungkin, haruslah jiwa berdaya-upaya untuk mendapatkan seorang bapa pengakuan yang berwawasan baik, sebab jiwa dapat tersungkur di bawah beban berat dan berada di ujung jurang yang dalam. Segala pencobaan ini sungguh berat dan sulit. Tuhan tak mengirimkan pencobaan yang demikian kepada jiwa yang belum masuk ke dalam persatuan mesra dengan-Nya dan yang belum pernah mencicipi sukacita surgawi. Di samping itu, Tuhan mempunyai rancangan-Nya sendiri, yang bagi kita tak terpahami. Acapkali Tuhan mempersiapkan suatu jiwa dengan cara ini bagi rancangan-rancangan dan karya-karya besar-Nya di masa mendatang. Tuhan ingin menguji jiwa sebagaimana emas murni diuji. Tetapi, hal ini bukanlah akhir dari ujian; masih ada pencobaan di atas segala pencobaan, jiwa sama sekali ditinggalkan oleh Tuhan.
Apabila jiwa menang dalam pencobaan-pencobaan sebelumnya, meski kadang tersandung di sana sini, jiwa bertempur dengan gagah berani, dengan rendah hati berseru kepada Tuhan, “Tuhan, selamatkanlah aku, aku binasa!” dan jiwa masih dapat terus berjuang. Namun demikian, pada tahap ini, jiwa diliputi suatu kegelapan yang mengerikan. Jiwa mendapati dirinya sama sekali ditinggalkan oleh Tuhan. Jiwa merasa dirinya menjadi obyek murka Allah. Jiwa hanya sejengkal saja dari keputusasaan. Jiwa berjuang sekuat tenaga guna mempertahankan diri, berusaha membangkitkan kepercayaannya, tetapi doa bahkan merupakan siksaan yang terlebih lagi baginya, sebab doa tampaknya hanya membangkitkan murka Allah yang terlebih dahsyat. Jiwa mendapati dirinya berada di puncak sebuah gunung yang tinggi, di tepi jurang yang dalam.
Jiwa ditarik kepada Tuhan, namun jiwa merasa ditolak. Segala siksa dan aniaya di dunia tak ada artinya dibandingkan dengan perasaan ini, di mana jiwa ditenggelamkan di dalamnya, yaitu perasaan ditolak oleh Tuhan. Tak seorang pun mampu mendatangkan kelegaan padanya; jiwa mendapati dirinya sebatang kara; tak seorang pun berada di pihaknya. Jiwa mengarahkan mata ke surga, tetapi jiwa yakin bahwa itu bukan untuknya - sebab bagi dia segalanya sudah lenyap. Jiwa jatuh semakin dan semakin dalam, dari kegelapan ke kegelapan, dan jiwa merasa bahwa untuk selamanya ia telah kehilangan Tuhan yang dulu dikasihinya begitu mesra. Pikiran-pikiran ini berkecamuk mendera jiwa hingga tak terlukiskan. Tetapi jiwa melawan pikiran-pikiran ini dan berusaha mengarahkan pandangannya ke surga, namun sia-sia! Hal ini menjadikan siksaannya bahkan semakin dahsyat.
Jika Tuhan berkehendak membiarkan jiwa dalam kegelapan demikian, maka tak ada seorang pun yang akan mampu mendatangkan terang baginya. Jiwa mengalami ditolak oleh Tuhan dengan cara yang nyata serta mengerikan. Dari hatinya terdengarlah erangan-erangan pilu, begitu memedihkan hingga tak seorang imam pun dapat memahaminya, kecuali jika ia sendiri pernah mengalami pencobaan-pencobaan demikian. Di tengah kegelapan, roh jahat menambah sengsara jiwa dengan ejekan-ejekannya, “Adakah engkau akan tetap bertahan dalam kesetiaanmu? Inilah ganjaranmu; engkau ada dalam kuasaku!” Tetapi setan hanya dapat membujuk jiwa sebanyak yang diijinkan Tuhan, dan Tuhan tahu benar seberapa banyak yang mampu kita tanggung. “Apakah yang kau dapatkan dari penyangkalan dirimu,” kata setan, “dan dari ketaatanmu pada peraturan? Apa guna segala daya upaya itu? Engkau telah ditolak oleh Tuhan!” Kata “ditolak”, menjadi suatu anak api yang merasuki segenap syaraf hingga ke sum-sum tulang dan menembusi seluruh keberadaannya. Siksa mencapai puncaknya. Jiwa tak lagi mencari pertolongan dari manapun. Jiwa menciut dan kehilangan pandangan akan segalanya; seolah jiwa telah menerima penderitaan ditinggalkan Tuhan. Masa ini adalah masa yang tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata. Inilah siksa jiwa.
Ya Tuhan-ku, bakarlah hatiku dengan kasih kepada-Mu, agar janganlah semangatku pudar di tengah badai, penderitaan dan pencobaan. Engkau tahu betapa lemahnya aku. Kasih mengatasi segalanya.
# St. Faustina Kowalska #
Aku seorang tunanetra, penderita Retinitis Pigmentosa. Tatkala kesedihan dan rasa sepi menghimpit jiwaku, maka aku akan segera memutar sebuah nomor telepon rahasia yang dapat langsung terhubung dengan rumah Bapaku: Y0h4n35146. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." *Mat 11:28*
Sabtu, 05 Mei 2018
Jumat, 04 Mei 2018
Masih Jauhkah Kalfari
Ya Tuhan, Tuhanku, mengapa salib yang harus kupikul begitu berat, bahkan bertambah berat?
Masih jauhKah Kalfari?
Akankah aku bertahan hingga tiba di sana?
Adakah Simon dari Kirene yang bersedia membantu memikul salib ini?
O Tuhan, Tuhanku, mengapa salib ini begitu berat?
Masih jauhkah Kalfari?
Berikanlah sedikit lagi kekuatan padaku, ya Tuhan, agar aku tak hilang di tengah jalan.
Kasihanilah aku, ya Tuhan, kasihanilah aku.
Kamis, 03 Mei 2018
Sharing Hati
Terkadang, saat dalam penderitaanku yang amat sangat; mengingat akan kepribadianku yang buruk dan segala dosa-dosaku, aku berpikir kalau aku telah ditolak oleh Tuhan. Pikiran ngeri ditolak Tuhan adalah siksaan yang paling hebat yang pernah kurasakan. Rasanya aku ingin mati saja! Untuk apa aku terus berjuang, jika Tuhan sendiri saja tidak berkenan pada diriku yang hina ini? Apa gunanya aku tetap ada, jika hidupku hanya mampu melukai hati banyak orang dan menjadi celaan bagi nama Tuhan? Bukankah seribu kali lebih baik jika aku tidak ada?
Tapi di tengah masa-masa sulit ini, jiwaku senantiasa tetap menanti-nantikan uluran tangan kasih-Mu, ya Tuhanku. Aku ngeri membayangkan Engkau membuangku, aku takut berjalan sendiri tanpa Engkau di sisiku, seolah-olah hanya hitam pekat seluruh jalanku.
O Yesusku, Engkau mengatakan bahwa 'lebih mudah seorang ibu melupakan bayinya daripada Tuhan melupakan makhluk ciptaan-Nya, dan bahkan andai seorang ibu melupakan bayinya, Aku Tuhan tidak akan pernah melupakan ciptaan-Ku.'
O Yesus, adakah Engkau mendengar bagaimana jiwaku merintih? Sudilah mendengar ratap-tangis pilu anak-Mu. Aku mengandalkan Engkau, ya Tuhan, sebab langit dan bumi akan lenyap, tetapi sabda-Mu akan tetap untuk selamanya.
Kasihanilah aku, ya Tuhan, kasihanilah aku.
Ampunilah aku, ya Tuhan, ampunilah aku Orang berdosa ini.
Sebab kepada-Mu saja jiwaku berharap. Kepada belas kasih-Mu saja hatiku percaya. Berikanlah kepadaku kemampuan untuk melawan diriku sendiri, melawan kemarahanku, melawan kebencianku yang tiada arah.
Janganlah Kau tinggalkan aku seorang diri. Janganlah Kau biarkan aku jatuh dan mati, sebab bukankah kasih-Mu lebih besar dari pada hidup?
biarkanlah lidahku kembali bersukacita karena segala kebaikan-Mu. Meski banyak dosaku. Walau Tak terhitung pelanggaranku, namun aku tetap berharap pada kemurahan-Mu yang besar tak terkira, ya Yesus keselamatanku.
Kiranya tangan-Mu yang lembut mengangkat aku kembali. Kiranya kesetiaan-Mu yang tak berujung memeluk diriku, hingga jiwaku boleh mendapatkan ketenangan, karena mengetahui bahwa Engkau masih menyayangiku, meski aku bergelimang dosa, kotor dan menjijikan.
Selasa, 01 Mei 2018
(Lagu) Beri Kami Harapan
Beri Kami Harapan
Oleh: Rachel Stefanie
Lagu ini berbicara tentang seruan hati mereka yang terbuang hanya karena mereka terlahir tak sempurna.
Seringkali manusia terlalu pintar untuk menilai kekurangan orang lain, tanpa menyadari bahwa dirinya pun penuh dengan kekurangan.
Mari,
"Cintailah mereka yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna".
Ingatlah bahwa kesempurnaan manusia itu terletak pada ketidak-sempurnaannya.
"Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang -orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat." (1 Korintus 1:27)
Ket:
Terima kasih untuk bapak Yohannes Sugiyono Setiadi yang sudah membuat video ini dan mengungahnya ke youtube.
"Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang -orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat." (1 Korintus 1:27)
Ket:
Terima kasih untuk bapak Yohannes Sugiyono Setiadi yang sudah membuat video ini dan mengungahnya ke youtube.
Senin, 30 April 2018
(Lagu) Inilah Janjiku
Inilah janjiku
Oleh: Rachel Stefanie
Kudatang padaMu, Tuhan,
Bersimpuh di kakiMu,
Meletakkan bebanku,
Tuk berteduh dalam dekapanMu.
Dengan segenap kekuatanku,
Kumau mengasihiMu,
Meski salib yang kupikul menghimpitku dan meremukkanku.
Reff:
Inilah janjiku kepadaMu, Yesus,
Kukan s'lalu mencintaiMu.
Sampai akhir nanti kukan menyembahMu,
S'bab Kau satu yang s'lalu tersimpan di dalam hatiku.
Oleh: Rachel Stefanie
Kudatang padaMu, Tuhan,
Bersimpuh di kakiMu,
Meletakkan bebanku,
Tuk berteduh dalam dekapanMu.
Dengan segenap kekuatanku,
Kumau mengasihiMu,
Meski salib yang kupikul menghimpitku dan meremukkanku.
Reff:
Inilah janjiku kepadaMu, Yesus,
Kukan s'lalu mencintaiMu.
Sampai akhir nanti kukan menyembahMu,
S'bab Kau satu yang s'lalu tersimpan di dalam hatiku.
(Lagu) Meskipun Mataku Tak Mampu Melihat
Meskipun Mataku Tak Mampu Melihat
Oleh: Rachel Stefanie
Bila kurenungkan perjalanan hidupku,
Sungguh Kau rancangkan segala yang terbaik.
Meskipun mataku tak mampu melihat,
Namun Kau tetap setia membimbing langkahku.
Reff:
Kini kupersembahkan hidupku ke dalam tangan-Mu, o Yesusku.
Jika Kau ingin sembuhkan mataku,
Kuyakin Kau sanggup melakukannya.
Namun janganlah kehendakku yang terjadi, melainkan kehendak-Mu jadilah.
Oleh: Rachel Stefanie
Bila kurenungkan perjalanan hidupku,
Sungguh Kau rancangkan segala yang terbaik.
Meskipun mataku tak mampu melihat,
Namun Kau tetap setia membimbing langkahku.
Reff:
Kini kupersembahkan hidupku ke dalam tangan-Mu, o Yesusku.
Jika Kau ingin sembuhkan mataku,
Kuyakin Kau sanggup melakukannya.
Namun janganlah kehendakku yang terjadi, melainkan kehendak-Mu jadilah.
Minggu, 01 Januari 2012
Tuhan Dimana Kau?
Suatu malam, kala aku sedang berdoa sendiri di dalam kamar, hatiku sungguh merasa hampa dan kosong, seolah-olah Tuhan berada sangat jauh, hingga rasanya doaku takkan sampai dan takkan terdengar oleh-Nya. Tiap doa yang kuucapkan sepertinya selalu mentok di langit-langit kamar, dan mental kembali kepadaku, benar-benar membuatku frustasi dan luar biasa sedih. Tak ayal lagi, air mata pun mulai mengalir. “Tuhan, di mana Kau?” hatiku menjerit. Tiba-tiba saja sekujur tubuhku terasa sangat lelah, keputusasaan menyergap jiwaku, dan aku pun segera menghempaskan tubuhku ke bantal, lalu menangis.
Sekonyong-konyong aku mendengar sebuah suara yang berkata dengan lembut:
“Imani saja kalau Aku berada dekat denganmu.”
Sejenak aku tertegun, otakku secara reflek langsung bekerja mencerna perkataan yang baru saja kudengar itu, namun dalam waktu bersamaan hatiku pun bertanya, “Apa?”
Aku berharap suara itu kembali berbicara, hanya untuk memuaskan keinginan manusiawiku yang ingin mendengarnya lagi. Tapi tentu saja suara itu tak lagi terdengar, karena sebenarnya aku sudah menangkap perkataan itu dengan jelas.
Kurang lebih selama dua atau tiga menit aku hanya merenungkan perkataan itu. Perlahan-lahan hatiku mulai menggembung kembali dengan harapan dan sukacita yang tiada tara. Seketika itu juga perasaan kecewa, sedih dan putus asa lengser dari kedudukannya, langsung digantikan dengan perasaan damai dan teduh yang terasa menyejukan jiwa, karena kutahu kini kalau sesungguhnya Tuhan berada teramat sangat dekat denganku, bahkan Dia baru saja berbicara padaku. Cepat-cepat aku bangun dari bantal dan kembali duduk untuk berdoa.
Sekarang, aku tak peduli lagi apakah doaku akan selalu mentok di langit-langit kamar atau hanya seperti hawa mulut yang langsung menguap lenyap, serta perasaan hatiku yang kosong melompong, hampa dan terasa gelap. Yang aku pedulikan kini adalah Tuhan begitu mengasihiku dan selalu bersedia mendengar setiap doaku, meski pun hanya sebuah doa yang kekanak-kanakan, tidak tertata rapi, dan terkesan amburadul dengan kata-kata sehari-hari seorang anak kecil kepada ayahnya, asal doa itu kuucapkan dengan hati yang tulus dan penuh kerinduan kepada Tuhan, maka pastilah Tuhan akan bersedia mendengarnya, walau mungkin jawaban yang kuterima dari-Nya hanyalah sebuah senyuman dan kedipan mata.
Sekonyong-konyong aku mendengar sebuah suara yang berkata dengan lembut:
“Imani saja kalau Aku berada dekat denganmu.”
Sejenak aku tertegun, otakku secara reflek langsung bekerja mencerna perkataan yang baru saja kudengar itu, namun dalam waktu bersamaan hatiku pun bertanya, “Apa?”
Aku berharap suara itu kembali berbicara, hanya untuk memuaskan keinginan manusiawiku yang ingin mendengarnya lagi. Tapi tentu saja suara itu tak lagi terdengar, karena sebenarnya aku sudah menangkap perkataan itu dengan jelas.
Kurang lebih selama dua atau tiga menit aku hanya merenungkan perkataan itu. Perlahan-lahan hatiku mulai menggembung kembali dengan harapan dan sukacita yang tiada tara. Seketika itu juga perasaan kecewa, sedih dan putus asa lengser dari kedudukannya, langsung digantikan dengan perasaan damai dan teduh yang terasa menyejukan jiwa, karena kutahu kini kalau sesungguhnya Tuhan berada teramat sangat dekat denganku, bahkan Dia baru saja berbicara padaku. Cepat-cepat aku bangun dari bantal dan kembali duduk untuk berdoa.
Sekarang, aku tak peduli lagi apakah doaku akan selalu mentok di langit-langit kamar atau hanya seperti hawa mulut yang langsung menguap lenyap, serta perasaan hatiku yang kosong melompong, hampa dan terasa gelap. Yang aku pedulikan kini adalah Tuhan begitu mengasihiku dan selalu bersedia mendengar setiap doaku, meski pun hanya sebuah doa yang kekanak-kanakan, tidak tertata rapi, dan terkesan amburadul dengan kata-kata sehari-hari seorang anak kecil kepada ayahnya, asal doa itu kuucapkan dengan hati yang tulus dan penuh kerinduan kepada Tuhan, maka pastilah Tuhan akan bersedia mendengarnya, walau mungkin jawaban yang kuterima dari-Nya hanyalah sebuah senyuman dan kedipan mata.
Langganan:
Postingan (Atom)