Senin, 30 April 2018

(Lagu) Inilah Janjiku

Inilah janjiku
Oleh: Rachel Stefanie

Kudatang padaMu, Tuhan,
Bersimpuh di kakiMu,
Meletakkan bebanku,
Tuk berteduh dalam dekapanMu.

Dengan segenap kekuatanku,
Kumau mengasihiMu,
Meski salib yang kupikul menghimpitku dan meremukkanku.

Reff:
Inilah janjiku kepadaMu, Yesus,
Kukan s'lalu mencintaiMu.
Sampai akhir nanti kukan menyembahMu,
S'bab Kau satu yang s'lalu tersimpan di dalam hatiku.




(Lagu) Meskipun Mataku Tak Mampu Melihat

Meskipun Mataku Tak Mampu Melihat
Oleh: Rachel Stefanie

Bila kurenungkan perjalanan hidupku,
Sungguh Kau rancangkan segala yang terbaik.

Meskipun mataku tak mampu melihat,
Namun Kau tetap setia membimbing langkahku.

Reff:
Kini kupersembahkan hidupku ke dalam tangan-Mu, o Yesusku.
Jika Kau ingin sembuhkan mataku,
Kuyakin Kau sanggup melakukannya.
Namun janganlah kehendakku yang terjadi, melainkan kehendak-Mu jadilah.





Minggu, 01 Januari 2012

Tuhan Dimana Kau?

Suatu malam, kala aku sedang berdoa sendiri di dalam kamar, hatiku sungguh merasa hampa dan kosong, seolah-olah Tuhan berada sangat jauh, hingga rasanya doaku takkan sampai dan takkan terdengar oleh-Nya. Tiap doa yang kuucapkan sepertinya selalu mentok di langit-langit kamar, dan mental kembali kepadaku, benar-benar membuatku frustasi dan luar biasa sedih. Tak ayal lagi, air mata pun mulai mengalir. “Tuhan, di mana Kau?” hatiku menjerit. Tiba-tiba saja sekujur tubuhku terasa sangat lelah, keputusasaan menyergap jiwaku, dan aku pun segera menghempaskan tubuhku ke bantal, lalu menangis.

Sekonyong-konyong aku mendengar sebuah suara yang berkata dengan lembut:
“Imani saja kalau Aku berada dekat denganmu.”

Sejenak aku tertegun, otakku secara reflek langsung bekerja mencerna perkataan yang baru saja kudengar itu, namun dalam waktu bersamaan hatiku pun bertanya, “Apa?”
Aku berharap suara itu kembali berbicara, hanya untuk memuaskan keinginan manusiawiku yang ingin mendengarnya lagi. Tapi tentu saja suara itu tak lagi terdengar, karena sebenarnya aku sudah menangkap perkataan itu dengan jelas.

Kurang lebih selama dua atau tiga menit aku hanya merenungkan perkataan itu. Perlahan-lahan hatiku mulai menggembung kembali dengan harapan dan sukacita yang tiada tara. Seketika itu juga perasaan kecewa, sedih dan putus asa lengser dari kedudukannya, langsung digantikan dengan perasaan damai dan teduh yang terasa menyejukan jiwa, karena kutahu kini kalau sesungguhnya Tuhan berada teramat sangat dekat denganku, bahkan Dia baru saja berbicara padaku. Cepat-cepat aku bangun dari bantal dan kembali duduk untuk berdoa.

Sekarang, aku tak peduli lagi apakah doaku akan selalu mentok di langit-langit kamar atau hanya seperti hawa mulut yang langsung menguap lenyap, serta perasaan hatiku yang kosong melompong, hampa dan terasa gelap. Yang aku pedulikan kini adalah Tuhan begitu mengasihiku dan selalu bersedia mendengar setiap doaku, meski pun hanya sebuah doa yang kekanak-kanakan, tidak tertata rapi, dan terkesan amburadul dengan kata-kata sehari-hari seorang anak kecil kepada ayahnya, asal doa itu kuucapkan dengan hati yang tulus dan penuh kerinduan kepada Tuhan, maka pastilah Tuhan akan bersedia mendengarnya, walau mungkin jawaban yang kuterima dari-Nya hanyalah sebuah senyuman dan kedipan mata.

Minggu, 11 Desember 2011

Sharing Hati

Saat aku menyerahkan segala kekuatiranku pada Yesus, maka hatiku akan menjadi lebih damai. Kepercayaan pada keputusan Tuhan menyembuhkan luka dan kepedihan hati.

Minggu, 04 Desember 2011

(Lagu) Tuhan Tahu Akan Segalanya

Ketika kau berpikir tentang persoalanmu,
seolah Tuhan jauh, dan mengabaikan seruanmu.

Janganlah kau gelisah akan hari depanmu,
seolah tiada lagi yang kan dapat menolongmu.

Reff:
Dia yang menanam telinga kita,
masakan Dia tak mendengar.
Dia pun yang membentuk mata kita,
masakan Dia tak memandang.
Tuhan tahu akan segalanya.

Rabu, 19 Oktober 2011

Renungan Anak : Keledai Yang Rendah Hati

Amsal 29:23 Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.

Kancil, kuda dan keledai adalah sahabat dekat. Mereka selalu bermain bersama-sama. Meskipun kuda dan kancil sering mengata-ngatai keledai si bodoh, namun keledai tidak pernah marah atau tersinggung. Keledai tetap menunjukan sikap bersahabat.

Keledai memang binatang yang lamban dan bodoh. Setiap kali mereka sedang bermain, keledai selalu jadi yang terbelakang. Sementara kuda dan kancil merupakan binatang yang cepat, pintar dan tangkas, dan mereka merasa bangga dengan kelebihan yang mereka miliki itu.

"Untung aku tidak seperti si keledai dungu!" Kata kuda dengan bangga saat mereka sedang berlomba menangkap kupu-kupu.

"Ya. Beruntung juga aku adalah seekor kancil yang dapat berlari sangat cepat dan terkenal cerdik!" Timpal si kancil tak mau kalah.

Mendengar celotehan kedua temannya, keledai hanya menunduk sedih. Sudah seharian dia berlari-lari mengelilingi taman, namun tak satu pun kupu-kupu berhasil dia tangkap. Sementara kuda sudah berhasil memperoleh lima kupu-kupu, dan kancil enam kupu-kupu.

"Huh," Terdengar kuda mendengus, "Seberapa pun cepatnya kau berlari, tetap saja masih lebih cepat aku!"

"Enak saja!" sahut kancil marah, "buktinya aku bisa mendapatkan kupu-kupu lebih banyak dari pada kamu!"

"Itu karena... Brak!... Aduh!" Kuda yang sedang memandang kancil sambil berlari mengejar kupu-kupu tak sengaja menabrak pohon sampai terjatuh dan kepalanya pusing tujuh keliling.

"hua ha ha ha ha..." Kancil tertawa terbahak-bahak sambil melompat-lompat kegirangan. "Tahu rasa kamu, kuda!" serunya mencemooh.

Keledai yang sedang beristirahat karena sudah lelah mengejar kupu-kupu yang belum juga berhasil dia tangkap, memandang kuda dengan perasaan kasihan, lalu dia menghampiri kuda dan mengusap-usap hidung kuda yang bengkak akibat terbentur batang pohon tadi.

Kuda yang melihat kebaikan keledai menjadi malu dan menyesal karena sudah mengolok-oloknya, sementara itu kancil masih menertawai kuda habis-habisan.

"Maafkan aku, keledai, karena aku sudah jahat padamu." kata kuda penuh penyesalan. "Ternyata kamu adalah teman sejati. Aku bersyukur sekali memiliki teman baik dan rendah hati sepertimu."

Kancil yang mendengar perkataan kuda langsung terdiam. Dia sadar bahwa dirinya bukan teman yang baik, bukan teman sejati karena sudah bersikap sombong dan bergembira di atas penderitaan sahabatnya sendiri.

"Maafkan aku juga ya, keledai." kata kancil kemudian kepada keledai.

Keledai pun mengangguk sambil tersenyum bahagia.

Mulai hari itu, kancil dan kuda tak pernah lagi mengata-ngatai keledai, melainkan mereka mencontoh sikap keledai yang selalu sabar dan rendah hati. Dengan demikian, mereka menjadi lebih bahagia dan rukun satu sama lain.


Adik-adik yang dikasihi Tuhan Yesus,
belajarlah bersikap seperti keledai yang rendah hati, tidak sombong, tidak suka membalas perbuatan jahat dengan perbuatan jahat lagi, melainkan dengan perbuatan penuh kasih, maka kita akan menyenangkan hati Tuhan, karena Tuhan memberi pujian kepada setiap anak-anak-Nya yang rendah hati.


Mari kita berdoa:

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

Tuhan Yesus, berilah kepadaku roh yang rendah hati dan penuh kasih, agar aku dapat menjadi saksiMu dan selalu menyenangkan hatiMu yang kudus dan penuh dengan belas kasih. Di dalam namaMu aku berdoa. Amin.

Bapa kami...
Salam Maria...
Kemuliaan...

Renungan Anak : Anak Pemalas Kena Batunya

Amsal 21:25 Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja.

Sejak kecil, Ficka sudah diangkat anak oleh orang tua Icha. Oleh karena itu, Ficka dan Icha selalu terlihat bersama-sama, baik saat di sekolah, maupun di rumah. Ayah Icha memang mendaftarkan Ficka di sekolah yang sama dengan anaknya, agar mereka bisa selalu bersama-sama.

Ficka sadar kalau dia hanyalah seorang anak angkat, makanya dia selalu bersedia membantu apa saja yang dia bisa lakukan. Seperti membantu ibu angkatnya membereskan rumah, memasak, sampai membantu Icha mengerjakan PR.

Sebaliknya, Icha selalu menyuruh Ficka mengerjakan apa saja yang dia minta, seperti mengambilkan minum, membereskan mainan yang baru saja selesai dimainkan oleh mereka berdua, menyetrikakan baju seragamnya, sampai mengerjakan semua tugas-tugas sekolahnya.

Di kelas, Icha sengaja duduk satu meja dengan Ficka, sehingga saat ujian, dia bisa menyontek jawaban Ficka, karena Ficka sudah belajar di rumah, sementara dia sendiri hanya bermalas-malasan.

"Buat apa aku belajar, toh, nanti aku tinggal menyontek saja hasil jawaban Ficka!" Kata Icha ketika ditanya ibunya mengapa dia tidak belajar seperti Ficka.

Icha memang sudah merasa keenakan dengan adanya Ficka di sampingnya. Dia berpikir kalau Ficka takut padanya, karena Ficka hanyalah seorang anak angkat yang menumpang di rumahnya.

Suatu hari, saat ujian kelulusan dilaksanakan, Seperti biasa Icha tidak mau belajar sama sekali, karena dia sudah yakin kalau dia bisa melihat jawaban Ficka yang duduk tepat di sebelahnya.

Tapi, ketika ujian sudah hendak dimulai, tiba-tiba saja guru pengawas menyuruh beberapa murid untuk bertukar tempat duduk, dan salah satunya adalah Ficka.

"Ficka, kamu bertukar tempat duduk dengan Bernad!" seru guru pengawas itu kepada Ficka yang langsung meninggalkan tempat duduknya dan menuju ke tempat duduk Bernad, sementara Bernad berpindah duduk di sebelah Icha.

Melihat kenyataan ini, wajah Icha langsung saja menjadi pucat. Tidak pernah disangka sebelumnya kalau dia akan duduk berjauhan dengan Ficka, apalagi sekarang yang duduk di sebelahnya adalah Bernad yang juga merupakan anak malas belajar, dan sering mendapatkan nilai buruk.

"Mati deh aku sekarang!" keluh Icha dalam hati.

Ujian pun dimulai.

Icha sama sekali tidak dapat menjawab satu soal pun. Ketika dia hendak melirik jawaban Bernad, tiba-tiba saja kepalanya bertuburkan dengan kepala Bernad yang ternyata juga sedang mencoba melirik jawaban Icha. Sesaat mereka berdua saling berpandangan sambil mengusap-usap dahi mereka yang terasa sakit, akibat tadi saling berbenturan.

Icha benar-benar merasa menyesal sudah malas belajar. Tak dapat ditahan lagi dua air mata jatuh membasahi kertas ujian yang terletak di atas meja. Sekarang sudah terlambat. Semuanya hanya gara-gara dia menjadi anak pemalas.

Saat hasil kelulusan diumumkan, Ficka bersorak senang karena dia merupakan anak terbaik di kelasnya. Tapi kegembiraannya itu tidak bertahan lama ketika dia mendengar bahwa Icha tidak lulus ujian.

Nah, adik-adik yang manis, jadilah anak yang rajin seperti Ficka, karena anak pemalas suatu hari nanti pasti akan kena batunya. Gunakanlah kedua tanganmu untuk bekerja, membantu sesama, dan belajar. Keinginan besar akan menjadi sia-sia jika tidak disertai tangan yang rajin.

Tuhan sayang kepada anak yang rajin, dan Dia pasti akan memberkati anak-anak yang tidak suka bermalas-malasan.

Mari kita berdoa :

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

Tuhan Yesus, ampuni saya jika selama ini saya merupakan anak yang pemalas. Malas belajar, malas membantu orang tua, dan juga suka malas berdoa. Saya mohon, berilah saya roh yang rajin, tangan yang rajin, dan kehendak untuk menjadi anak yang rajin, agar saya bisa menjadi berkat bagi orang lain. Di dalam nama Tuhan Yesus, Amin.